POJOKSATU.id, KARAWANG – Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali digelorakan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, DRG. Putih Sari, mendapat respons antusias dari masyarakat Karawang. Meski demikian, Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa realisasi penerima manfaat MBG secara nasional masih jauh dari target.

Dalam pemaparannya, Teguh Suparngadi, S.E., Tenaga Ahli Direktorat Promosi BGN, menyebut bahwa implementasi program belum berjalan optimal. Ia menuturkan bahwa minat masyarakat tinggi, tetapi jangkauan penerima manfaat masih terbatas.

Teguh menjelaskan bahwa sasaran nasional MBG mencapai 82,9 juta jiwa, namun hingga saat ini baru sekitar 40,5 juta jiwa yang telah tercover. Angka tersebut baru menyentuh 48 persen dari keseluruhan target yang harus dicapai dalam tahap awal pelaksanaan.

“Kami harus mengejar 82,9 juta penerima manfaat secara nasional. Saat ini realisasinya baru sekitar 40,5 juta jiwa atau 48 persen,” terang Teguh saat mengikuti agenda sosialisasi di Karawang.

Tidak hanya secara nasional, kondisi serupa juga terjadi di Karawang. BGN melaporkan bahwa per September 2025, jumlah Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) di daerah ini baru mencapai 53 unit, jumlah yang dinilai belum cukup untuk melayani 11 klaster sasaran MBG, mulai dari pelajar hingga ibu hamil.

Baca Juga: Program MBG di Karawang Disambut Antusias Warga dan Pemerintah Desa

Melihat kondisi tersebut, Teguh menekankan perlunya percepatan pembangunan SPPG di Karawang. Ia menyebut kerja sama dengan DPR, khususnya melalui drg. Putih Sari, menjadi kunci memperluas jangkauan pelayanan gizi.

“Dengan percepatan pembangunan SPPG, kami berharap target nasional dapat terpenuhi, termasuk penyesuaian kebutuhan penerima manfaat di Karawang,” ujarnya.

Tak hanya soal gizi, Teguh juga mengungkap bahwa MBG memiliki dampak langsung terhadap penguatan ekonomi lokal. Perputaran dana program di Jawa Barat telah mencapai kisaran Rp 1,4 triliun per bulan, sementara potensi ekonomi di Karawang berada di angka Rp 31,8 miliar per bulan.

Menurut Teguh, keberadaan SPPG akan membuka peluang bagi petani, peternak, dan nelayan desa untuk menjadi pemasok utama kebutuhan bahan pangan. Hal ini sesuai arahan Presiden agar penguatan ekonomi dimulai dari desa sehingga manfaat program dapat langsung dirasakan masyarakat akar rumput. ***