POJOKSATU.id, KARAWANG – Suasana hangat penuh haru menyelimuti Majlis Ta’lim Miftahul Khoir yang berlokasi di Desa Klari, Kabupaten Karawang, pada Sabtu (25/10/2025). Tujuh santri cilik secara resmi menuntaskan pembelajaran Iqra’ dan kini naik tingkat ke tahap pembelajaran Al-Qur’an. Prosesi tersebut menjadi momen penting dalam perjalanan pendidikan agama para santri di majlis tersebut.
Acara sederhana yang digelar di halaman majlis itu disaksikan langsung oleh para orang tua, pengajar, serta seluruh santri. Para santri yang lulus tampak antusias, sementara para orang tua terlihat bangga melihat perkembangan anak-anaknya dalam mempelajari ilmu agama sejak usia dini.
Pengasuh Majlis Ta’lim Miftahul Khoir, Ustaz Ahmad Romli, menyampaikan bahwa kenaikan tingkat dari Iqra’ menuju Al-Qur’an adalah fase yang tidak hanya menuntut kemampuan membaca, tetapi juga komitmen dalam menjaga kedisiplinan belajar. "Hari ini kita menyaksikan langkah baru tujuh santri yang siap mempelajari Kalamullah secara langsung. Ini bukan sekadar kelulusan, melainkan awal dari perjalanan panjang mereka dalam menuntut ilmu Al-Qur’an," ujarnya.
Menurutnya, dasar pembelajaran melalui Iqra’ ibarat pondasi yang akan memperkokoh kemampuan membaca Al-Qur’an secara benar. "Membaca Al-Qur’an bukan perkara melafalkan huruf saja, tetapi bagaimana menjadikannya cahaya kehidupan dan pedoman dalam berakhlak," tambahnya.
Baca Juga: Viral! Video Anggota DPRD Karawang Ribut dengan Warga di Gintungkerta
Ustaz Ahmad yang juga pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya itu berharap semangat para santri tidak berhenti setelah naik ke Al-Qur’an. Ia menegaskan bahwa tujuan pendidikan Al-Qur’an adalah membentuk karakter dan iman yang kuat sejak dini. "Saya berharap anak-anak ini tidak hanya fasih membaca, tetapi mampu mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.
Dalam rangkaian acara, para santri yang naik tingkat mengikuti tradisi berbagi yang telah menjadi ciri khas Majlis Ta’lim Miftahul Khoir. Sebagai ungkapan rasa syukur, para orang tua santri membawa hidangan seperti nasi kotak, ayam bekakak, dan nasi uduk untuk dibagikan kepada sesama santri. Tradisi tersebut menambah suasana keakraban dan mempererat silaturahmi antar jamaah.
"Tradisi berbagi ini adalah pendidikan akhlak. Kami ingin menanamkan bahwa ilmu harus dibarengi dengan rasa syukur dan kepedulian kepada sesama. Dengan berbagi, insyaallah keberkahan ilmu akan semakin bertambah," jelas Ustaz Ahmad Romli.
Acara ditutup dengan doa bersama serta nasihat dari para ustaz. Tujuh santri yang telah dinyatakan naik tingkat kini bersiap memulai pembelajaran Al-Qur’an dengan bimbingan para pengajar di Majlis Ta’lim Miftahul Khoir. Dengan dukungan orang tua dan lingkungan yang religius, mereka diharapkan tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang berakhlak mulia dan cinta ilmu agama. ***




