POJOKSATU.id, KARAWANG – Tak semua prajurit menghabiskan waktunya hanya di barak atau lapangan latihan. Bagi Kopral Kepala (Kopka) Imat Ruhimat, anggota Kodim 0604/Karawang, pengabdian sejati bukan hanya di medan tugas, tapi juga di tengah masyarakat.

Di sela kesibukan menjaga keamanan wilayah, Kopka Imat memilih jalan berbeda: menjadi pendidik sukarela bagi anak-anak di desanya. Ia dikenal sebagai prajurit yang rendah hati, mengabdikan diri bukan hanya lewat senjata, tetapi juga lewat ilmu dan ketulusan.

Bagi Kopka Imat, waktu senggang bukan untuk bersantai. Dengan penuh semangat, ia mengajar anak-anak mengaji dan mengenal nilai-nilai moral sejak dini. Tempat belajarnya sederhana—kadang di musala, kadang di serambi rumah warga. Namun dari tempat-tempat itulah tumbuh semangat belajar dan keakraban antara TNI dan masyarakat.

Tak hanya membimbing anak-anak, Imat juga aktif mengajar ibu-ibu majelis taklim. Dengan gaya bicaranya yang lembut dan mudah dimengerti, ia kerap memberikan pencerahan seputar ajaran Islam dan nilai-nilai kebersamaan. Sosoknya kini menjadi panutan dan dihormati warga karena ketulusannya berbagi ilmu tanpa pamrih.

Baca Juga: Dandim Karawang Sampaikan Pesan Panglima TNI: TNI Kuat Bersama Rakyat

“Menjadi prajurit bukan hanya soal menjaga kedaulatan negara. Mengabdi pada rakyat juga bagian dari tugas kami,” ujar Kopka Imat Ruhimat saat ditemui, Sabtu (4/10/2025).

Ia mengaku mengajar ngaji adalah bentuk panggilan hati. “Saya ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat. Lewat ilmu agama, saya berharap anak-anak dan masyarakat bisa tumbuh dengan nilai-nilai kebaikan,” ucapnya dengan senyum tulus.

Kisah pengabdian Kopka Imat Ruhimat menjadi bukti nyata bahwa kekuatan TNI bukan hanya pada disiplin dan fisik, tapi juga pada kepedulian terhadap rakyat. Ia menunjukkan bahwa seorang prajurit bisa menjadi pelindung sekaligus pembimbing, menjaga negeri sekaligus menyalakan harapan di hati masyarakat.

Semangat TNI Manunggal Bersama Rakyat benar-benar hidup dalam diri Kopka Imat. Di usianya yang terus menua, ia tetap konsisten menebar manfaat. Sosoknya mengajarkan bahwa pengabdian tidak harus menunggu jabatan tinggi—bahkan dari seorang kopral pun bisa lahir keteladanan besar bagi bangsa. ***