POJOKSATU.id, KARAWANG – Kecaman keras datang dari masyarakat Karawang Utara terhadap seorang oknum HRD PT FCC yang diduga melontarkan pernyataan melecehkan. Ucapan tersebut dianggap telah merendahkan martabat warga lokal.
Pernyataan kontroversial itu menyebutkan bahwa "orang Karawang nggak pintar-pintar", yang memicu kemarahan warga serta berbagai elemen masyarakat. Insiden ini langsung menyulut reaksi dari Forum Karawang Utara Bergerak (FKUB), yang menilai ucapan itu sebagai bentuk penghinaan terbuka terhadap identitas masyarakat Karawang.
Ketua Umum FKUB, Angga Dhe Raka, menegaskan bahwa ucapan seperti itu tidak bisa ditoleransi. Menurutnya, pernyataan tersebut telah melukai harga diri masyarakat Karawang Utara.
"Kami bukan hanya tersinggung, tapi merasa dilecehkan. Kalimat itu mencederai martabat warga Karawang yang selama ini hidup berdampingan dengan berbagai industri di wilayah ini," ujar Angga dengan nada geram.
Baca Juga: Ratusan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen, Petani Karawang Minta Normalisasi Sungai Dipercepat
Tak hanya FKUB, organisasi masyarakat lainnya turut angkat suara. Panglima LSM Laskar NKRI, M. Balung, menyampaikan tuntutan agar pihak berwajib segera menindak oknum tersebut.
"Pernyataan seperti itu tidak bisa dibiarkan. Kami meminta aparat penegak hukum untuk segera turun tangan. Bila perlu, oknum itu harus dipecat dan dilarang bekerja kembali di Karawang," tegasnya.
Desakan dari masyarakat semakin menguat, mengingat PT FCC adalah salah satu perusahaan besar yang beroperasi di wilayah Karawang dan memiliki tanggung jawab sosial terhadap warga sekitar. Mereka menilai bahwa perilaku pihak internal perusahaan harus mencerminkan sikap saling menghargai.
FKUB bersama elemen masyarakat lainnya saat ini tengah menyiapkan langkah hukum. Jika dalam waktu dekat tidak ada respon dari aparat penegak hukum maupun manajemen PT FCC, aksi unjuk rasa dan pelaporan resmi ke lembaga hukum menjadi opsi yang akan ditempuh.
"Kami siap turun ke jalan jika persoalan ini tidak ditangani dengan serius. Kami ingin Karawang dihargai, bukan dihina," tutup Angga. ***




