POJOKSATU.id, JEMBER – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berujung pada antrean mengular di berbagai SPBU Kabupaten Jember membuat Bupati Jember, Gus Fawait, mengambil langkah tegas.

Tak sekadar mengeluarkan kebijakan darurat di tingkat daerah, ia juga secara terbuka menyoroti lambatnya respons Pertamina dalam memitigasi krisis pasokan.

Menurut Gus Fawait, krisis BBM ini bermula dari kemacetan parah di jalur menuju pelabuhan yang menghubungkan distribusi ke wilayah Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, hingga Lumajang.

Baca Juga: Prabowo Kembali ke Luar Negeri, Total Lawatan Disebut Tembus 58 Kali: Setara Jokowi 10 Tahun

Ia menyesalkan pihak Pertamina yang dinilai lambat membaca situasi sehingga kepanikan di tengah masyarakat telanjur terjadi.

"Ini sudah ketiga kalinya terjadi di Jember akibat hambatan pada rantai distribusi," tegas Gus Fawait,  Sabtu (12/9/2026).

Gus Fawait menekankan bahwa Pertamina seharusnya bisa bergerak lebih cepat dan taktis.

Baca Juga: BPS Bongkar Rahasia Penentuan Desil Bansos, Ternyata Pakai Machine Learning Berbasis Kabupaten!

Saat indikasi kemacetan mulai terlihat di Banyuwangi, alokasi pasokan untuk kawasan terdampak semestinya langsung dialihkan dari titik lain, seperti Depo Surabaya atau Malang, tanpa harus menunggu SPBU kehabisan stok.

Sebagai perbandingan nyata di lapangan, Gus Fawait justru mengapresiasi kinerja penanganan pasokan LPG.

Ketika jalur distribusi dari Banyuwangi terganggu, Sales Area Manager (SBM) Pertamina yang membawahi sektor LPG bergerak sigap mengalihkan suplai gas dari arah Surabaya dan Gresik, sehingga ketersediaan LPG di Jember tetap aman terkendali.

Baca Juga: Sering Diprotes Karena Salah Sasaran? Pemerintah Langsung Respons 4,3 Juta Warga Baru Akhirnya Dapat Bansos! 

Berkaca dari insiden yang terus berulang ini, Pemkab Jember tidak akan tinggal diam. Gus Fawait menegaskan pihaknya segera melayangkan surat resmi kepada Pertamina Pusat dan pemerintah pusat di Jakarta.

Langkah strategis ini diambil mengingat Kabupaten Jember memiliki cakupan wilayah yang sangat luas dan merupakan daerah dengan populasi terbesar ketiga di Jawa Timur, yakni mencapai 2,6 hingga 2,7 juta jiwa.

Tingginya angka mobilitas warga, ditambah banyaknya pendatang dan mahasiswa, membuat kebutuhan energi di Jember sangat vital.

Salah satu desakan utama yang didorong oleh Pemkab Jember adalah pengaktifan kembali infrastruktur BBM di wilayahnya.

"Kami mengusulkan reaktivasi depo di Jember agar suplai tidak bergantung penuh pada Depo Banyuwangi," ucap Gus Fawait. Selain itu, ia juga meminta adanya prosedur tetap (protap) peralihan titik pengiriman dari Surabaya, Malang, atau Gresik secara otomatis jika jalur utama mengalami kendala.

Baca Juga: Antrean BBM di Rest Area KM 68B Tangerang-Merak Meningkat, Pertamina Ungkap Faktor Pemicunya

Sembari menunggu perbaikan sistem distribusi dari Pertamina, Gus Fawait telah mengambil langkah intervensi cepat demi mengurai kepanikan dan kepadatan di Jember.

Ia menginstruksikan kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) serta Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring untuk seluruh sekolah di bawah naungan Pemkab, Cabang Dinas, dan Kementerian Agama Jember.

Kebijakan taktis ini terbukti sangat efektif, dimana volume kendaraan di jalanan jadi menurun drastis, sehingga kepadatan lalu lintas dan antrean panjang di SPBU berhasil terurai seiring dengan mulai pulihnya pasokan fisik BBM.

Baca Juga: Jangan Sampai Berkas Ditolak! Ini Ketentuan Penting Pengajuan Mutasi ASN di Aplikasi Terbaru BKN

Langkah pembatasan mobilitas ini dijadwalkan akan terus berlangsung hingga akhir pekan. Pemkab Jember menargetkan seluruh aktivitas masyarakat dan operasional SPBU dapat kembali normal sepenuhnya pada awal pekan mendatang. ***