POJOKSATU.id, JEMBER– Kemeriahan Festival Egrang ke-14 yang digelar di komunitas Tanoker Ledokombo, Kabupaten Jember, pada Sabtu (8/8/2026), sukses menyedot perhatian banyak pihak. 

Mengusung tema "Membangun Komunitas Melalui Permainan Tradisi", perhelatan budaya tahunan ini menjadi wujud nyata pelestarian kearifan lokal sekaligus ruang aman bagi anak-anak.

Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Jember Gus Fawait, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi, Konsulat Jenderal Australia di Jawa Timur Glen Askew, serta Direktur Tanoker Farha Abdul Kadir Assegaf (Bunda Ciciek Farha).

Baca Juga: Kurir Narkoba Terperosok ke Parit Usai Dikejar Polisi Tengah Malam, 24 Ball Ganja Madina Diamankan

Melihat ekosistem komunitas yang hidup di Ledokombo, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi tak segan memberikan apresiasi tinggi. 

Ia menilai bahwa inisiatif pelestarian tradisi sekaligus pemberdayaan anak dan perempuan di Jember ini merupakan sebuah inovasi yang sangat luar biasa.

Secara tidak langsung, Arifatul menyoroti fenomena langka di mana program pembangunan justru lahir dari masyarakat desa, bukan sekadar instruksi dari pemerintah pusat maupun daerah. 

Baca Juga: 17 Tahun Cetak Agen Perubahan, AHM Kalibrasi Kompetensi Instruktur Safety Riding Terbaik se-Indonesia

Menurutnya, potensi warga yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Jember merupakan modal sosial yang sangat kuat untuk memajukan Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah tersebut.

Di sela-sela apresiasinya terhadap permainan tradisional egrang yang menjauhkan anak dari layar gawai (gadget) Menteri Arifatul turut mengingatkan para orang tua tentang ancaman nyata di era digital. 

Ia menyebutkan bahwa tantangan pola asuh anak masa kini sangat berat, terutama terkait paparan media sosial yang tidak tersaring.

Baca Juga: FWJ Indonesia Laporkan Eks Ketua Korwil Bekasi ke Polisi terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik

"Tantangan anak-anak dan keluarga sekarang itu luar biasa. Kita memang tidak bisa meninggalkan perkembangan teknologi informasi, tapi anak-anak kita mutlak harus didampingi dalam mengonsumsinya," tegas Arifatul.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Kementerian PPPA kini tengah menggencarkan Gerakan Nasional untuk menciptakan ruang aman dan nyaman bagi anak di seluruh Indonesia. 

Gerakan ini menargetkan empat aspek perlindungan utama, yakni aman di lingkungan keluarga, ruang publik, satuan pendidikan, hingga aman dari ancaman di ruang digital.

Namun, Arifatul menyadari bahwa cita-cita besar tersebut tidak akan pernah terwujud jika hanya mengandalkan regulasi tertulis dari pemerintah. 

Diperlukan kolaborasi multisektor agar perlindungan anak benar-benar berjalan efektif.

Baca Juga: Rapat Pertama Dewan Syuro dan Tanfidziah PKB Madina, Pengurus Kecamatan Kita Selama Ini Adalah Tokoh

Ia pun memuji ekosistem kolaborasi yang sudah terbangun di Kabupaten Jember, seperti halnya wadah yang diciptakan oleh komunitas Tanoker bersama Pemkab Jember di bawah kepemimpinan Gus Fawait.

"Sebetulnya, Jember sudah memiliki kegiatan dan program kolaborasi yang secara prinsip sudah menjadi ruang bersama untuk menyelesaikan masalah ini," tutup Menteri PPPA. ***