POJOKSATU.id, JEMBER – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember berkomitmen penuh untuk memastikan proyek “Food Street” di kawasan Jalan Kartini berjalan dengan matang tanpa grasak-grusuk.

Meskipun pengerjaan fisik di lapangan baru menyentuh angka 25 persen saat ditinjau, Bupati Jember, Muhammad Fawait (Gus Fawait) menegaskan ada alasan logis di balik lambatnya progres tersebut.

Gus Fawait buka-bukaan bahwa pemerintah daerah enggan terburu-buru mengejar target fisik jika harus mengorbankan kenyamanan warga serta pemilik pertokoan sekitar.

Baca Juga: Beasiswa Binus University hingga 100 Persen untuk 12 Kampus, Cek Jalur dan Program Studinya

Pemkab Jember lebih memilih jalur dialog intensif untuk menyerap aspirasi pemilik lahan di sepanjang Jalan Gatot Subroto dan Jalan Kartini demi menghindari konflik sosial di kemudian hari.

Selain proses komunikasi yang humanis, tingkat kerumitan penataan utilitas bawah tanah dan pelebaran trotoar ramah difabel di kawasan tersebut memang membutuhkan perhatian ekstra.

Langkah hati-hati ini sengaja dilakukan karena proyek infrastruktur ini diproyeksikan bakal mendongkrak nilai investasi dan ekonomi kawasan secara drastis di masa depan.

Baca Juga: KPK Belum Berniat Ambil Alih Kasus Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah dari Kejagung

"Bahkan justru ini akan membuat tata tanah yang ada di Jalan Gatot Subroto dan Kartini ini nilainya pasti akan naik tinggi, bahkan mungkin biaya sewa juga pasti akan berbeda dibanding daerah yang lainnya," tegas Gus Fawait, Kamis, (15/7/2026).

Di balik proses pembangunannya yang hati-hati, Gus Fawait rupanya telah menyiapkan cetak biru masa depan yang sangat matang untuk kawasan pedestrian ini.

Proyek ini tidak dirancang sekadar sebagai sentra kuliner atau tempat pemindahan pedagang kaki lima (PKL) biasa, melainkan diintegrasikan sebagai pusat pariwisata perkotaan terpadu.

Baca Juga: Kapuspenkum Beri Klarifikasi, Status Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Masih Tersangka  

Visi besarnya adalah menciptakan ekosistem pariwisata pejalan kaki yang nyaman dan saling terhubung langsung dengan Stasiun Jember yang kini sudah bersolek estetis.

"Saya jadi ada potensi bahwa wilayah ini mirip-mirip seperti Jogja, Malioboro," ungkap Gus Fawait membeberkan konsep masa depan kawasan tersebut.

Nantinya, wisatawan yang turun dari kereta api bisa langsung berjalan kaki membelah kota untuk berburu kuliner, menikmati lanskap kota yang rapi, hingga berswafoto di spot-spot ikonik.

Kawasan ini juga diproyeksikan menjadi wadah berekspresi bagi generasi muda dengan disiapkannya panggung hiburan seni dan budaya secara berkala.

Sistem manajemen kebersihan 24 jam dan rekayasa lalu lintas yang matang juga tengah digodok agar pusat keramaian baru ini tidak berubah menjadi kawasan yang kumuh dan macet.

Baca Juga: Cara Mendapatkan Tiket Gratis Sea World Ancol untuk Lansia, Berlaku hingga Akhir Juli 2026

Meski sempat berjalan lambat demi menjaga kualitas perencanaan, Gus Fawait tetap optimistis mega proyek kebanggaan warga Jember ini tetap bisa dikebut dan rampung total pada Desember mendatang. ***