POJOKSATU.id, JEMBER - Kabupaten Jember memang sudah kadung melekat dengan citra lumbung kopi robusta.
Namun, ternyata tulang punggung pendapatan Perumda Perkebunan (PP) Kahyangan saat ini bukanlah si biji hitam tersebut.
Fakta mengejutkan ini dibongkar langsung oleh Direktur Produksi, Pemasaran, dan Pengembangan PP Kahyangan Jember, Nyoman Aribowo.
Siapa sangka, komoditas yang diam-diam menjadi "mesin pencetak uang" raksasa bagi perusahaan pelat merah ini justru adalah karet.
"Karet itu memang andalan kita ya. Jadi kita boleh dibilang 70-an persen pendapatan kita itu justru dari karet, yang mungkin orang nggak banyak tahu," ungkap Nyoman, Rabu (8/7/2026).
Angka 70 persen jelas bukan kaleng-kaleng.
Di saat publik dan mungkin pemerintah daerah terus menyoroti performa kopi, karet justru menopang mayoritas operasional perusahaan.
Bukan cuma soal volume produksi yang tembus hingga 1.000 ton per tahun, meroketnya sumbangsih karet ini juga mendapat 'durian runtuh' dari kondisi ekonomi global.
Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini ternyata membawa berkah melimpah bagi harga jual karet Jember.
Baca Juga: Ratusan Warga Serbu PATEN Karawang, TNI Turun Tangan Kawal Layanan KTP hingga UMKM
Nyoman tak menampik bahwa lonjakan dolar membuat jajaran manajemen kini bisa bernapas lega.
"Harga karet hari ini di kisaran Rp35 ribuan. Ada kenaikan dolar itu berdampak nggak? Berdampak. Kita hari ini ya agak tersenyum agak lebar dikit lah karena harga karet yang bagus," bebernya.
Senyum direksi PP Kahyangan ini sangat beralasan.
Pasalnya, sebelum tren positif ini terjadi, harga karet sempat tertahan di angka lesu, yakni di bawah Rp30.000 per kilogram.
Kini, dengan sistem lelang yang ketat, harga karet grade atas milik PP Kahyangan bahkan sanggup menembus angka Rp40.000 per kilogram. ***



