POJOKSATU.id - Tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz ternyata tidak otomatis berarti Teheran siap berkompromi mengenai program nuklirnya.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa posisi negaranya terhadap program nuklir tetap tidak berubah, bahkan jika Amerika Serikat menerima proposal pembukaan jalur pelayaran strategis tersebut.

Iran juga menyatakan Selat Hormuz masih akan ditutup sampai seluruh persyaratan yang diajukan kepada Washington dipenuhi.

Baca Juga: Guru Honorer dan PPPK Paruh Waktu Dapat Sinyal Kepastian Karier pada 2027, Ini Skemanya

Sikap tersebut membuat dua isu besar berjalan beriringan dalam diplomasi Iran-AS.

Di satu sisi, Teheran menawarkan jalan untuk memulihkan pelayaran di salah satu jalur energi terpenting dunia.

Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan posisi mengenai hak dan program nuklirnya.

Proposal pembukaan Selat Hormuz sebelumnya disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui mediator kepada Washington.

Baca Juga: Skandal BPN Jatim Bikin Geleng-geleng Kepala: KPK Geledah PT Summarecon Agung, Berikut 19 Nama Tersangka Suap

Dalam skema tersebut, Iran menawarkan pembukaan kembali jalur pelayaran dalam waktu tujuh hari dengan sejumlah persyaratan.

Teheran meminta penghentian permusuhan, pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, serta langkah terkait sanksi minyak dan dana Iran yang dibekukan.

Setelah persyaratan awal terpenuhi, pembukaan jalur pelayaran dan pembicaraan lanjutan dapat dilakukan.

Reuters sebelumnya melaporkan Iran menyatakan siap membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu satu pekan apabila tekanan militer AS dikurangi dan blokade terhadap pelabuhan Iran dicabut.

Baca Juga: Mantan Menag Lukman Hakim Tegaskan Ponpes Gontor Sangat Memuliakan Presiden Prabowo

Namun, tawaran tersebut tidak disertai perubahan posisi Iran dalam isu nuklir.

Pejabat Iran yang berbicara secara anonim menegaskan Teheran tidak akan memberikan konsesi mengenai hak nuklirnya, termasuk terkait pengayaan uranium maupun pemindahan uranium yang diperkaya tinggi ke luar negeri.

Posisi tersebut menjadi salah satu titik sensitif dalam setiap pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat.

Hormuz dan Nuklir Jadi Dua Agenda Berbeda
Bagi Iran, pembukaan Selat Hormuz dan perundingan nuklir merupakan persoalan yang saling berkaitan dalam konteks diplomasi, tetapi bukan berarti satu isu otomatis menentukan konsesi pada isu lainnya.

Baca Juga: Komunikasi Xi

Selat Hormuz memiliki arti penting bagi perdagangan energi global.

Karena itu, gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut menjadi perhatian negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk.

Sementara itu, persoalan nuklir berkaitan dengan aktivitas pengayaan uranium Iran dan tuntutan internasional mengenai verifikasi serta pembatasan program tersebut.

Data terakhir yang tersedia dari laporan IAEA pada 2025 menunjukkan bahwa per 13 Juni 2025, Iran memiliki estimasi 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen U-235.

Baca Juga: Ratusan Massa Geruduk Kantor WALHI, Desak Transparansi Dugaan Dana Asing

IAEA juga mencatat sebagian besar jumlah tersebut telah diverifikasi dalam bentuk UF6, tetapi akses verifikasi terhadap material tertentu kemudian menghadapi kendala akibat situasi keamanan dan perkembangan politik.

Level pengayaan 60 persen menjadi perhatian internasional karena berada jauh di atas kebutuhan pengayaan untuk sebagian besar penggunaan energi sipil, meskipun masih di bawah tingkat pengayaan yang umumnya dikaitkan dengan penggunaan senjata nuklir.

Jalan Diplomasi Masih Terbuka
Di tengah ketegangan tersebut, Iran tetap menyatakan bahwa penyelesaian konflik dapat ditempuh melalui diplomasi.

Baca Juga: Pencarian Hari ke-12, 5 Lagi Korban Meninggal, Total Sudah 179 Ditemukan Korban KM Virgo Transport 8

Perkembangan terbaru menunjukkan Washington telah merespons proposal Iran dengan sikap yang berbeda dari harapan Teheran.

Presiden AS Donald Trump dilaporkan menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, sementara Iran tetap menyatakan bahwa penyelesaian konflik membutuhkan jalur diplomatik.

Kondisi ini membuat pembicaraan mengenai Selat Hormuz belum otomatis mengarah pada kesepakatan baru mengenai program nuklir.

Baca Juga: Pencarian Hari ke-12, 5 Lagi Korban Meninggal, Total Sudah 179 Ditemukan Korban KM Virgo Transport 8

Bagi Iran, tuntutan mengenai jalur pelayaran, sanksi, blokade, dan gencatan senjata harus dibicarakan sebagai bagian dari proses yang lebih luas.

Namun, untuk isu nuklir, Teheran masih mempertahankan posisi bahwa hak-hak yang diklaimnya tidak akan menjadi objek konsesi.

Dengan demikian, tantangan diplomasi berikutnya bukan hanya soal kapan kapal dapat kembali melintas secara normal di Selat Hormuz.

Perundingan juga harus menghadapi perbedaan mendasar mengenai program nuklir yang selama ini menjadi salah satu sumber ketegangan terbesar Iran dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat.***