POJOKSATU.id — Misteri yang menyelimuti formasi Durupinar di Turki kembali diteliti oleh tim ilmuwan internasional.

Penelitian dilakukan untuk mencari tahu apakah struktur menyerupai kapal tersebut terbentuk melalui proses geologi atau merupakan hasil campur tangan manusia.

Tim peneliti menggunakan teknologi pemindaian untuk melihat kondisi yang berada di bawah permukaan formasi tersebut.

Dari pemeriksaan itu, muncul sejumlah pola yang dinilai tidak lazim.

Baca Juga: Prediksi Skor Turki vs Paraguay: Siapa Favorit Pemenang?

Mengutip Geo News, pemindaian radar memperlihatkan sejumlah garis yang tampak lurus, pertemuan struktur membentuk sudut siku-siku, serta area bawah tanah dengan ukuran cukup luas.

Pola tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa di bawah permukaan Durupinar terdapat bagian menyerupai lorong maupun ruangan.

Andrew Jones, peneliti asal Amerika Serikat yang juga mendirikan Noah's Ark Scans, mengklaim hasil penelitian terbaru semakin menguatkan dugaan bahwa struktur tersebut dibuat oleh manusia.

Jones yang telah meneliti kawasan itu selama hampir 30 tahun bahkan menyatakan bahwa hasil pemeriksaan terbaru telah memberikan konfirmasi penuh terhadap dugaan tersebut.

Akan tetapi, pernyataan itu belum didukung oleh verifikasi dari pihak independen.

Baca Juga: 5 Relawan GPCI Berangkat ke Turki untuk Bergabung dalam Misi Global Sumud Flotilla 2026

Hingga kini juga belum tersedia hasil penelitian yang telah melewati mekanisme peninjauan sejawat untuk membuktikan klaim tersebut.

Lauren E. Witzke selaku Direktur Penggalangan Dana dan Pemasaran Noah's Ark Scans menyampaikan pandangan serupa mengenai asal-usul formasi tersebut.

Ia mengatakan para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian menyimpulkan bahwa Durupinar tidak menunjukkan karakteristik formasi geologi alami.

Witzke juga menyebut sejumlah ilmuwan yang menelaah hasil pemindaian mengategorikan struktur yang ditemukan sebagai objek buatan manusia.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa terdapat seorang ilmuwan yang mengajukan spekulasi berbeda mengenai objek tersebut.

Namun, dugaan tersebut tidak dapat dianggap sebagai kesimpulan ilmiah karena belum memperoleh pembuktian.

Persoalan mengenai keberadaan batuan dasar juga menjadi bagian dari perdebatan mengenai asal-usul Durupinar.

Witzke menyatakan bahwa pemeriksaan menggunakan teknologi pemindaian tidak menemukan batuan dasar di bawah formasi tersebut.

Baca Juga: Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh Temui Diaspora Indonesia di Turki: Tegaskan Komitmen Mendukung Perjuangan Anak Bangsa di Luar Negeri

Bagi tim peneliti, hasil itu menjadi salah satu alasan untuk mempertanyakan teori yang selama ini menyebut Durupinar sebagai bagian dari struktur batuan alami.

Meski berbagai temuan telah dikemukakan, tim belum menemukan material kayu atau bagian kapal yang dapat menjadi bukti langsung keberadaan Bahtera Nuh di lokasi tersebut.

Belum ada pula publikasi ilmiah yang melalui proses peer review dan menyatakan bahwa struktur di bawah Durupinar benar-benar dibangun oleh manusia.

Oleh sebab itu, proses penelitian masih berlanjut dengan pengumpulan sampel serta pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi bawah tanah.

Kelompok peneliti yang dipimpin arkeolog Cenker Atila dilaporkan telah mengambil kurang lebih 1.000 sampel tanah dari sekitar 150 lokasi di kawasan tersebut.

Baca Juga: Mengapa Model Bank Sentral Non-Independen Berhasil Di China Namun Gagal Di Turki, Bagaimana Bank Indonesia?

Selain pengambilan sampel, tim juga mulai menjalankan pengeboran inti untuk memperoleh data mengenai lapisan dan struktur yang berada di bawah permukaan Durupinar.

Penelitian selanjutnya akan melibatkan robot bernama Gopher yang disiapkan untuk menjelajahi bagian bawah formasi yang sulit diperiksa secara langsung oleh manusia.

Perangkat tersebut nantinya dapat mendokumentasikan kondisi di dalam struktur sekaligus mengambil sampel dari area yang dianggap tidak aman atau sulit dijangkau tim peneliti.

Durupinar bukan nama baru dalam pencarian lokasi yang dikaitkan dengan kisah Bahtera Nuh.

Formasi tersebut telah menjadi objek perhatian para pencari bahtera selama beberapa dekade.

Keberadaan struktur itu mulai dikenal luas setelah bentuknya teridentifikasi melalui pengamatan foto udara pada 1959.

Dengan panjang sekitar 160 meter, bentuk Durupinar dinilai memiliki kemiripan dengan ukuran kapal yang digambarkan dalam narasi Alkitab mengenai Bahtera Nuh.

Kisah Nabi Nuh AS dan bahteranya juga dikenal dalam ajaran Islam melalui Al-Qur'an.

Baca Juga: Tradisi Makan Bubur Asyura Jelang 10 Muharam, Mengingatkan Kisah Nabi Nuh Selamat dari Banjir Bandang

Dalam kisah tersebut, Nabi Nuh AS mendapatkan perintah Allah SWT untuk membuat kapal sebagai tempat penyelamatan bagi dirinya dan orang-orang beriman ketika banjir besar menimpa kaumnya.

Meski demikian, hubungan antara Durupinar dan Bahtera Nuh hingga sekarang belum menjadi kesimpulan yang diterima secara ilmiah.

Hasil pemindaian yang menunjukkan struktur bawah tanah tersebut masih membutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan asal-usulnya.

Karena itu, temuan tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa formasi Durupinar merupakan Bahtera Nuh.

Hasil pengeboran, analisis sampel, dan eksplorasi menggunakan robot Gopher diharapkan dapat memberikan informasi tambahan untuk mengungkap misteri di balik struktur tersebut.***