POJOKSATU.id — Banjir bandang melanda kawasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026) sekitar pukul 08.37 waktu setempat.

Dahsyatnya bencana tersebut menyebabkan jumlah korban meninggal dunia mendekati 400 orang, sedangkan kurang lebih 1.400 orang hingga kini masih dalam pencarian.

Para korban yang belum ditemukan mayoritas dilaporkan berasal dari kalangan wisatawan yang sedang berada di wilayah terdampak saat bencana berlangsung.

Dilansir dari The Guardian, situasi di kawasan Himalaya masih menjadi perhatian karena muncul ancaman baru dari dua danau yang berada di kedua sisi wilayah perbatasan Nepal dan China.

Kedua danau tersebut diketahui terbentuk akibat material yang membendung aliran sungai.

Baca Juga: Harga Tiket BIGBANG Jakarta 2027 Mulai Rp1,55 Juta, Ini Jadwal Presale

Jika ketinggian air terus mengalami peningkatan, bendungan alami itu berpotensi runtuh dan menyebabkan banjir kembali menerjang kawasan di sekitarnya.

Terjadinya banjir bandang di Nepal dan Tibet cukup mengejutkan mengingat kedua wilayah tersebut berada di kawasan pegunungan Himalaya yang memiliki ketinggian ekstrem.

Namun, kondisi geografis tersebut tidak sepenuhnya membuat kawasan Himalaya terbebas dari ancaman banjir bandang.

Peristiwa ini diduga berkaitan dengan longsoran gletser, yakni massa es yang berada dan bergerak di wilayah daratan pegunungan.

Ketika gletser mengalami keruntuhan, material yang terbawa tidak hanya berupa es, tetapi juga mencakup batu, lumpur, serta puing-puing lainnya.

Baca Juga: Polisi Amankan 322 Orang Terkait Demo 27 Agustus, Sebanyak 160 Orang Kategori Anak-anak

Material tersebut kemudian masuk dan menumpuk di aliran sungai pegunungan hingga menghambat pergerakan air.

Sungai yang tersumbat membuat air tertampung di belakang timbunan material dan secara bertahap membentuk danau yang berfungsi seperti bendungan alami.

Masalah dapat muncul ketika jumlah air terus bertambah sehingga tekanan terhadap material penyumbat semakin kuat.

Dalam kondisi tertentu, bendungan alami tersebut dapat pecah dan melepaskan air dalam jumlah besar secara mendadak ke wilayah yang berada di bagian hilir.

Air dari pencairan gletser yang bercampur dengan debit sungai kemudian dapat mengalir dengan sangat cepat dan menyebabkan banjir bandang.

Baca Juga: Wujudkan Pembangunan Merata hingga Pelosok, 2 Jembatan Gantung di Jember Diresmikan Gus Fawait Bersama PSMTI dan PT Pegadaian

Fenomena tersebut dikenal sebagai glacial lake outburst flood atau GLOF, yaitu banjir yang terjadi ketika danau glasial mengalami jebol atau pelepasan air secara tiba-tiba.

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyatakan bahwa kejadian tersebut berkaitan dengan runtuhnya gletser beserta material yang kemudian bergerak menuju sistem sungai.

Penjelasan serupa disampaikan ahli geologi Otoritas Penanggulangan Bencana dan Manajemen Risiko Nasional Nepal, Prakash Pokharel.

Ia menjelaskan bahwa Sungai Lhende terdampak longsoran es dan batu yang berasal dari kawasan Nepal.

Baca Juga: Ketua PKB Madina Pimpin Ziarah ke Makam Ulama Besar Mandailing Natal, Tegaskan Jadi Program Kerja PKB

Material hasil longsoran tersebut kemudian masuk ke sungai dan menjadi salah satu faktor yang memperparah kondisi banjir di wilayah sekitar.

Ancaman belum sepenuhnya berakhir karena dua danau di kawasan perbatasan masih memiliki potensi mengalami jebolnya bendungan alami.

Oleh sebab itu, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat yang berada di sepanjang jalur aliran sungai dan wilayah yang berpotensi terdampak banjir susulan.***