POJOKSATU.id, JAKARTA-- Iran dianggap memiliki teknologi rudal yang canggih saat ini. Mereka menggabungkan rudal dan drone untuk melumpuhkan pertahanan udara negara Teluk yang dilindungi AS.
Di sisi lain Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengakui adanya kebocoran pada benteng pertahanan udara mereka sehingga bisa ditembus rudal Iran.
"Sebuah rudal berhasil menembus pertahanan. Kami menembak jatuh hampir semua rudal. Satu rudal lolos, ini sangat memilukan," ujar Marco Rubio, dikutip dari Anadolu, Rabu (22/7/2026).
Laporan CBS News menegaskan, bobolnya benteng pertahanan ini bukanlah kejadian terisolasi.
Baca Juga: Sakit Jantung
Pangkalan Udara Muwaffaq Salti tercatat telah dihantam dua kali hanya dalam kurun waktu 48 jam sebelumnya.
Juru bicara Komando Pusat AS (Centcom), Kapten Tim Hawkins menolak berkomentar rinci terkait investigasi internal yang sedang berjalan.
Namun, ia mengonfirmasi bahwa armada AS dan sekutunya telah menumbangkan puluhan rudal dan drone Iran yang mengarah ke negara-negara Teluk pada 17 Juli lalu.
Secara akumulatif, Pentagon mengonfirmasi hampir 100 anggota militer AS mengalami luka-luka akibat gelombang gempuran Iran di Timur Tengah sepanjang bulan ini.
Merespons insiden di Yordania, Presiden AS Donald Trump melayangkan kritik yang ditujukan pada pihak pengelola keamanan di pangkalan tersebut. Trump mengklaim ada operator lain di lokasi yang dinilainya lalai.
Baca Juga: Presiden Tunjuk Kuntadi Jampidsus, Leonard Simanjuntak Jampidum, Harli Siregar Kaban Pelatihan
"Kita memiliki peralatan terbaik di dunia, Anda tahu, kita telah menghentikan hampir semuanya," jelas dia.
"Tetapi, ketika Anda membiarkan orang lain melakukan pekerjaan Anda di AS, kita membiarkan orang lain melakukan pekerjaan itu dan terkadang hasilnya tidak begitu baik," sambungnya.
Letnan Jenderal Purnawirawan Yordania, Qasid Mahmoud, menghubungkan meningkatnya efektivitas serangan Iran dengan peningkatan teknologi rudal.
"Iran memiliki teknologi rudal yang canggih. Mereka menggabungkan rudal dan drone untuk melumpuhkan pertahanan udara," ujarnya.
"Iran menggunakan rudal sederhana untuk mengalihkan perhatian radar. Kemudian mereka menembakkan rudal berkualitas lebih baik, yang mengubah target akhirnya dalam jarak 30 atau 40 kilometer terakhir," tambahnya.
Menurutnya, perubahan lintasan di menit-menit terakhir ini membuat pencegatan jauh lebih sulit.
Serangan rudal presisi Iran yang menghantam Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania telah menewaskan dua tentara AS, menyebabkan satu prajurit hilang, serta melukai puluhan personel lainnya.
Insiden ini menandai kegagalan sistem deteksi dan pencegatan dini pertahanan udara AS serta sekutunya.***

