POJOKSATU.id - Rencana pertemuan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026 belum mampu mengembalikan kepercayaan perusahaan pelayaran internasional untuk kembali melintasi Selat Hormuz.
Meski harapan perdamaian mulai muncul, sejumlah operator kapal masih memilih bersikap hati-hati.
Mereka menilai kesepakatan di atas kertas belum cukup menjadi jaminan keamanan bagi aktivitas pelayaran di salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia tersebut.
Salah satu perusahaan yang masih menunggu perkembangan nyata di lapangan adalah Mitsui O.S.K Lines, perusahaan pelayaran raksasa asal Jepang.
Hingga kini, perusahaan tersebut belum berencana mengarahkan armadanya kembali melewati Selat Hormuz sebelum kondisi benar-benar terbukti aman.
Kepala Eksekutif Mitsui O.S.K Lines, Jotaro Tamura, menegaskan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar kesepakatan politik antara negara-negara terkait, melainkan implementasi nyata yang dapat dirasakan langsung oleh para pelaku industri pelayaran.
Menurutnya, keamanan di wilayah perairan tersebut harus benar-benar terlihat di lapangan agar perusahaan pelayaran memiliki keyakinan untuk kembali menggunakan jalur tersebut.
"Yang perlu diwujudkan bukanlah sekadar kesepakatan sederhana antara negara-negara terkait, tetapi harus bersifat nyata dan diterjemahkan ke dalam situasi sebenarnya di Selat Hormuz, sehingga perusahaan pelayaran dapat merasa nyaman untuk melewatinya," kata Tamura seperti dikutip cnbc.
Baca Juga: Instrumentasi Jurusan Apa? Bisa Mengembangkan Alat Ukur dan Sistem Kendali Teknologi Modern
Trauma Gangguan Pelayaran Masih Membekas
Konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu antara Iran dan koalisi AS-Israel telah memberikan dampak besar terhadap perdagangan global.
Jalur Selat Hormuz yang selama ini menjadi lintasan penting perdagangan energi dunia mengalami gangguan serius.
Akibat situasi tersebut, pengiriman berbagai komoditas strategis mengalami hambatan.
Tidak hanya minyak mentah dan gas alam cair, sejumlah produk lain seperti aluminium dan urea juga terdampak karena terganggunya aktivitas logistik di kawasan tersebut.
Baca Juga: Siapa Berani Masuk Teknik Fisika, Ilmu Menggabungkan Fisika, Rekayasa, dan Teknologi Industri
Selat Hormuz sendiri selama ini dikenal sebagai jalur transit bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut langsung menjadi perhatian pasar global.
Mitsui O.S.K Lines merupakan salah satu dari tiga perusahaan pelayaran terbesar di Jepang.
Perusahaan ini mengoperasikan lebih dari 900 kapal yang terdiri dari kapal tanker, kapal pengangkut curah, hingga feri penumpang.
Baca Juga: Proteksi Tanaman, Jurusan yang Melindungi Tanaman dari Hama dan Penyakit untuk Ketahanan Pangan
Besarnya armada yang dimiliki membuat keputusan perusahaan tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi pelaku industri pelayaran internasional dalam menilai tingkat keamanan Selat Hormuz.
Pembukaan Selat Hormuz Belum Tentu Langsung Normal
Tamura juga mengingatkan bahwa sekalipun Selat Hormuz kembali dibuka setelah adanya kesepakatan damai, aktivitas pelayaran kemungkinan tidak akan langsung pulih seperti semula.
Menurutnya, banyak kapal yang saat ini masih menunggu kepastian keamanan sebelum berani kembali melintasi kawasan tersebut.
Kondisi itu berpotensi menciptakan antrean panjang dan membutuhkan waktu untuk kembali normal.
Baca Juga: Banyak Aksi Demo di Jakarta, Presiden Prabowo Batal Berangkat ke Kazan Rusia
"Mengingat pengalaman dalam beberapa bulan terakhir, saya pikir masuk akal untuk berasumsi bahwa mungkin akan memakan waktu setidaknya beberapa minggu atau bahkan sebulan untuk melewati Selat Hormuz, jika sudah dibuka," lanjut Tamura.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa industri pelayaran masih menyimpan kekhawatiran terhadap kemungkinan pelanggaran kesepakatan yang pernah terjadi sebelumnya.
Klaim Trump Belum Mengubah Sikap Pelaku Pelayaran
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyampaikan bahwa kapal-kapal pengangkut minyak mulai bergerak keluar dari kawasan selat melalui jalur yang disebutnya sebagai "Jalan Raya Selatan" yang aman dan terjamin.
Baca Juga: Keren! Tim U-9 Bina Patra Fantasista Academy Jadi Juara Piala GEAS Jawa Barat
Namun, klaim tersebut belum cukup mengubah pandangan sebagian pelaku industri pelayaran global.
Mereka masih menilai bahwa stabilitas kawasan harus dibuktikan melalui kondisi nyata yang berlangsung secara konsisten dalam jangka waktu tertentu.
Karena itu, meskipun proses diplomasi antara Washington dan Teheran menunjukkan perkembangan positif, banyak perusahaan pelayaran masih memilih menunggu sebelum mengambil keputusan besar terkait operasional armadanya di Selat Hormuz.***

