POJOKSATU.id - Hubungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan memanas menyusul meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon.
Dalam sebuah percakapan telepon yang disebut berlangsung sangat tegang, Trump dilaporkan melontarkan kritik keras kepada Netanyahu terkait operasi militer Israel yang dinilai berisiko memperburuk situasi di kawasan Timur Tengah.
Laporan tersebut diungkap Axios yang mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat dan sumber yang mendapat pengarahan terkait isi pembicaraan kedua pemimpin tersebut.
Baca Juga: Kelola Uang Rp 335 Triliun, Kejagung Geledah Kantor BGN Usai Dadan Hindayana Dicopot
Percakapan itu terjadi setelah meningkatnya serangan Israel ke wilayah Lebanon yang memicu reaksi keras dari berbagai pihak.
Menurut salah satu sumber, Trump secara langsung menyampaikan kemarahannya kepada Netanyahu.
Presiden AS itu disebut menilai langkah Israel telah melampaui batas dan berpotensi mengganggu berbagai upaya diplomasi yang sedang dijalankan Washington di kawasan.
Baca Juga: Dadan Hindayana Ucapkan Terima Kasih pada Prabowo Usai Dicopot Kepala BGN
"Kau benar-benar gila. Kau pasti sudah dipenjara kalau bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu," kata sumber yang merangkum pernyataan Trump dalam percakapan tersebut.
Trump juga disebut melontarkan kritik tajam terkait dampak internasional yang muncul akibat operasi militer Israel.
"Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini," lanjut pernyataan yang dikutip sumber tersebut.
Baca Juga: Backrooms Meledak di Box Office, Film Horor Viral Berbahasa Indonesia Raup Rp1,45 Triliun
Sumber lain menyebut panggilan telepon itu menjadi salah satu percakapan paling buruk antara Trump dan Netanyahu sejak Trump kembali menduduki Gedung Putih.
Bahkan, Trump dilaporkan sempat meninggikan suara karena merasa Israel bertindak terlalu jauh dalam merespons ancaman keamanan yang ada.
"Apa yang kau lakukan?" ujar Trump sebagaimana ditirukan oleh sumber yang mengetahui isi percakapan tersebut.
Meski memahami bahwa Hizbullah telah melakukan serangan terhadap Israel, Trump disebut menilai respons militer yang dilakukan Israel dalam beberapa hari terakhir tidak proporsional.
Ia juga dikabarkan khawatir terhadap tingginya jumlah korban sipil di Lebanon.
Baca Juga: Riset 15 Tahun Bongkar Jurusan Kuliah Paling Cuan, Nomor 1 Bukan Kedokteran
Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan itu, Trump secara khusus mempertanyakan operasi yang menyebabkan kerusakan besar terhadap bangunan di Lebanon demi menargetkan seorang komandan Hizbullah.
Selain persoalan kemanusiaan, Trump juga disebut menilai langkah Netanyahu dapat membahayakan proses negosiasi yang sedang dijalankan Amerika Serikat dengan Iran.
Sebelumnya, Iran mengumumkan penghentian sementara pembicaraan damai dengan AS setelah meningkatnya serangan Israel di Lebanon.
Baca Juga: Sosok Nanik S Deyang Loyalis Prabowo Jadi Kepala BGN, Pernah Wartawati Tabloid Bangkit
Di tengah ketegangan tersebut, seorang pejabat lain mengklaim bahwa Trump berhasil menekan Netanyahu selama percakapan berlangsung.
"Bibi berkata, 'Oke, oke, pastikan saja semuanya diurus'," ujar sumber tersebut menggambarkan respons Netanyahu.
Meski hubungan keduanya kembali memanas, koordinasi antara Amerika Serikat dan Israel disebut masih terus berlangsung, terutama terkait isu Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Trump sendiri melalui platform Truth Social menegaskan bahwa komunikasi dan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dengan cepat.
Baca Juga: Dell XPS 13 2026 Bikin Geger, Laptop Premium Windows Kini Lebih Murah dari MacBook Neo
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa Washington masih berupaya menjaga jalur diplomasi tetap terbuka meski situasi keamanan kawasan semakin kompleks.
Sementara itu, Netanyahu juga mengeluarkan pernyataan setelah percakapan dengan Trump.
Ia menegaskan bahwa Israel tetap mempertahankan posisinya terkait operasi militer di Lebanon.
Menurut Netanyahu, dirinya telah menjelaskan kepada Trump bahwa Israel akan tetap menyerang target di Beirut apabila Hizbullah terus melakukan serangan terhadap wilayah Israel.
Baca Juga: Jago Cimory
Ia juga menegaskan operasi militer di Lebanon selatan akan tetap dilanjutkan.
"Posisi kami tetap sama," tulis Netanyahu.
Ketegangan Lama yang Kembali Muncul
Hubungan Trump dan Netanyahu sebenarnya bukan kali pertama diwarnai perdebatan keras.
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, kedua pemimpin juga pernah terlibat perbedaan pandangan terkait berbagai isu strategis di Timur Tengah.
Namun demikian, keduanya selama ini tetap mampu menjaga koordinasi dalam berbagai kebijakan penting, khususnya yang berkaitan dengan Iran, keamanan regional, dan kepentingan geopolitik masing-masing negara.
Ketegangan terbaru ini menjadi perhatian dunia karena terjadi saat kawasan Timur Tengah kembali berada dalam fase yang sangat sensitif.
Setiap keputusan yang diambil oleh para pemimpin negara besar berpotensi memengaruhi stabilitas regional dan arah diplomasi internasional dalam beberapa waktu ke depan.
Di tengah konflik yang terus memanas, dunia kembali menyaksikan betapa rapuhnya keseimbangan di Timur Tengah.
Perbedaan pandangan antara para pemimpin besar bukan hanya soal strategi politik, tetapi juga menyangkut harapan jutaan warga sipil yang mendambakan keamanan dan kehidupan yang lebih damai.
Ketika suara senjata semakin keras terdengar, harapan terhadap jalur diplomasi justru menjadi semakin berharga.***

