POJOKSATU.id - Uranium kembali jadi sorotan global setelah Iran dikabarkan sepakat mengurangi dan memindahkan uranium yang telah diperkaya ke negara ketiga.
Langkah itu sebagai bagian dari proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak Februari 2026.
Namun Iran memberikan syarat ketat. Teheran meminta jaminan bahwa uranium tersebut bisa dikembalikan jika perundingan gagal.
Selain itu, Iran juga menolak pembongkaran fasilitas nuklir mereka.
Baca Juga: Dolar AS Tembus Rp17.500, Rupiah Masuk Zona Genting dan Bikin Pasar Ketar-ketir
Beberapa hari sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan fokus utama pemerintah saat ini adalah mengakhiri perang.
“Untuk saat ini, kami memutuskan untuk fokus mengakhiri perang, karena ini jadi perhatian seluruh kawasan, bangsa kami, dan komunitas internasional,” kata Esmail.
Di tengah memanasnya konflik itu, publik mulai bertanya-tanya soal uranium.
Banyak orang mengenalnya sebagai bahan utama bom nuklir.
Padahal, fungsi uranium ternyata jauh lebih luas dari sekadar senjata perang.
Baca Juga: Disdik Jabar Mulai Uji Coba Aplikasi SPMB 2026, Targetkan 826 Ribu Lulusan SMP dan MTs Terdata
Menurut Badan Tenaga Atom Internasional atau IAEA, uranium adalah unsur radioaktif alami dengan nomor atom 92 dan termasuk kelompok unsur aktinida.
Uranium memiliki kemampuan melepaskan energi sangat besar melalui proses peluruhan radioaktif.
Nah, kemampuan inilah yang membuat uranium menjadi bahan penting untuk teknologi nuklir modern.
Dalam bentuk alami, uranium sebenarnya belum bisa langsung digunakan untuk membuat bom nuklir.
Unsur tersebut harus melalui proses pengayaan terlebih dahulu untuk meningkatkan kadar uranium-235 yang mampu memicu reaksi berantai.
Saat ini Iran disebut memiliki uranium yang diperkaya hingga 60 persen.
Angka itu jauh di atas kebutuhan sipil biasa dan menjadi salah satu alasan kekhawatiran Amerika Serikat serta Israel.
Meski identik dengan perang dan senjata, uranium ternyata punya banyak manfaat dalam kehidupan manusia.
Salah satu penggunaan terbesar uranium adalah untuk pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN.
Uranium-235 menghasilkan panas luar biasa yang kemudian diubah menjadi energi listrik.
Saat ini sekitar 9 persen listrik dunia berasal dari tenaga nuklir.
Bahkan tren penggunaannya terus meningkat karena banyak negara mencari sumber energi rendah karbon untuk mengurangi emisi.
Baca Juga: Giliran Ketua GAMKI Sahat Sinurat Dilaporkan ke Bareskrim Polri Terkait Ceramah Jusuf Kalla
Iran sendiri memiliki PLTN Bushehr yang dibangun bersama Rusia.
Selain listrik, uranium juga digunakan sebagai tenaga penggerak kapal selam dan kapal induk bertenaga nuklir.
Teknologi ini memungkinkan kapal bertahan berbulan-bulan tanpa perlu mengisi bahan bakar.
Tidak heran kalau kapal selam nuklir menjadi salah satu aset militer paling strategis di dunia.
Menariknya lagi, uranium juga dimanfaatkan dalam dunia kesehatan.
Reaktor berbahan bakar uranium dapat menghasilkan radioisotop yang dipakai dalam berbagai prosedur medis modern.
Bahkan teknologi terapi kanker kini memanfaatkan bahan radioaktif untuk menyerang sel kanker secara langsung tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.
Di beberapa negara, panas dari reaktor nuklir juga digunakan untuk kebutuhan industri dan pemanas gedung saat musim dingin.
Teknologi nuklir bahkan mulai dikembangkan untuk proses desalinasi atau mengubah air laut menjadi air bersih.
Wah, fungsi uranium ternyata jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari daripada yang dibayangkan banyak orang.
Uranium deplesi atau sisa pengayaan dengan tingkat radioaktivitas rendah juga pernah digunakan sebagai penyeimbang pesawat terbang karena material ini sangat padat namun tidak memakan banyak ruang.
Selain itu, material tersebut dipakai sebagai pelindung radiasi di rumah sakit dan alat pengangkut material radioaktif.
Yang paling futuristik, uranium juga pernah dikembangkan sebagai sumber tenaga roket luar angkasa.
NASA dan DARPA sempat mengembangkan teknologi Nuclear Thermal Propulsion atau NTP, yaitu sistem roket berbasis tenaga nuklir yang diyakini mampu memangkas waktu perjalanan ke Mars.
Namun proyek bernama DRACO itu akhirnya dihentikan pada 2025 karena pemotongan anggaran dan perkembangan pesat roket konvensional milik SpaceX.
Di balik citranya yang menakutkan, uranium sebenarnya adalah salah satu unsur paling penting dalam perkembangan teknologi modern.
Sayangnya, ketika konflik politik dan perang ikut bermain, unsur yang bisa membantu kehidupan manusia itu justru berubah menjadi simbol ketegangan dunia.***

