POJOKSATU.id,--Amerika Serikat (AS) mengklaim pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengalami cacat permanen akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel beberapa waktu lalu.

Mengutip laporan Reuters, Minggu, 12 April 2026, tiga sumber yang dekat dengan lingkaran Mojtaba menyebut wajah Mojtaba mengalami cacat.

Sementara satu atau kedua kakinya mengalami cedera parah setelah serangan yang terjadi pada hari pertama konflik, 28 Februari 2026, yang menerjang kediaman ayahnya Ali Khamenei di Tehran.

Meski mengalami luka berat, Mojtaba disebut masih dalam tahap pemulihan dan tetap menjalankan fungsi kepemimpinan dalam kapasitas yang terbatas.

Baca Juga: Perlukah Minum Tablet Tambah Darah Saat Menstruasi? Ini Penjelasan Lengkapnya

"Sedang dalam masa pemulihan dari luka-lukanya dan tetap memiliki ketajaman mental yang terjaga," ungkap laporan tersebut.

Mojtaba diketahui mengikuti pertemuan dengan pejabat senior melalui konferensi audio dan tetap terlibat dalam pengambilan keputusan strategis, termasuk terkait perang dan negosiasi dengan Washington.

Namun, kondisi dan keberadaannya masih menjadi misteri bagi publik. Tidak ada foto, video, atau rekaman suara yang dirilis sejak serangan tersebut maupun sejak ia ditunjuk sebagai pengganti ayahnya pada 8 Maret.

Pernyataan pejabat Amerika Serikat turut memperkuat laporan itu.

Baca Juga: Pakistan Berharap Tak Terjadi Perang AS vs Iran Usai Islamabad Talk Buntu, Hormati Gencatan Senjata

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada 13 Maret mengatakan Mojtaba terluka dan kemungkinan cacat, sementara sumber intelijen AS menyebut ada kemungkinan ia kehilangan satu kaki.

Muncul Usai Gencatan Senjata

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, akhirnya muncul ke permukaan menanggapi gencatan senjata yang telah disepakati Amerika Serikat (AS).

Mojtaba muncul usai terciptanya gencatan senjata antara AS dan Iran selama dua pekan.

Dalam pernyataannya, Khamenei menegaskan Republik Islam Iran tidak menginginkan konflik dengan AS maupun Israel, namun tetap akan mempertahankan hak-haknya sebagai negara.

"Kami tidak mencari perang dan tidak menghendakinya," ujar Khamenei dalam pesan tertulis yang disiarkan melalui televisi pemerintah pada Kamis (9/4).

"Namun kami tidak akan mengorbankan hak-hak sahnya dalam kondisi apa pun, serta memandang seluruh kekuatan dalam poros perlawanan sebagai satu kesatuan," tambah dia.

Pernyataan itu dinilai berkaitan dengan situasi di Lebanon, di mana Israel masih terus melancarkan serangan ke sekutu Iran, yaitu Hizbullah.***