POJOKSATU.id,-- China atau Tiongkok mengambil langkah tak biasa dengan menutup langit penerbangan selama 40 hari terhitung mulai 27 Maret hingga 6 Mei 2026.

Melalui penerbitan Notice to Air Missions (Notam), China menutup ruang udara dari permukaan hingga ketinggian tak terbatas tanpa memberikan penjelasan resmi mengenai adanya latihan militer.

Hingga saat ini, Kementerian Pertahanan maupun otoritas penerbangan sipil China belum memberikan pernyataan resmi.

Baca Juga: Usai Bebas, Amsal Sitepu Minta Negara Ubah Aturan untuk Lindungi Kreator

Direktur Proyek SeaLight, Ray Powell, memberikan analisa terkait penutupan ruang udara yang berlaku mulai 27 Maret hingga 6 Mei 2026.

"Apa yang membuat ini sangat menonjol adalah kombinasi status SFC-UNL (permukaan hingga ketinggian tak terbatas) dengan durasi luar biasa 40 hari dan tanpa adanya pengumuman latihan," ujar Ray Powell, Direktur Proyek SeaLight di Universitas Stanford, dilansir Wall Street Journal, Senin (6/4/2026).

Menurut Powell, hal ini menunjukkan adanya postur kesiapan operasional yang berkelanjutan, bukan sekadar latihan militer terpisah.

Baca Juga: Iran dan Amerika Serikat Sepakat Gencatan Senjata 2 Pekan, tapi Trump Tak Jelaskan Posisi Israel

Jika terkonfirmasi terkait dengan latihan, maka peringatan ini merepresentasikan pergeseran signifikan dalam cara Beijing menggunakan kontrol ruang udara sebagai alat sinyal militer.

Christopher Sharman, Direktur Institut Studi Maritim China di US Naval War College, menilai zona ini bisa menjadi ajang simulasi konflik.

Dia menambahkan, ruang udara tersebut dapat memberikan kesempatan untuk melatih jenis manuver pertempuran udara yang akan diperlukan dalam skenario seperti konflik.

Cakupan wilayah yang luas Berdasarkan data dari Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat (AS), zona yang dicadangkan China ini mencakup total area yang lebih luas daripada pulau utama Taiwan.

Wilayah tersebut meliputi ruang udara lepas pantai di utara dan selatan Shanghai. Lalu dari wilayah membentang dari Laut Kuning yang berhadapan dengan Korea Selatan, hingga Laut China Timur yang menghadap Jepang.***