POJOKSATU.ID - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas.

Pemerintah Iran secara tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sepenuhnya untuk pelayaran internasional tanpa adanya kompensasi atas kerugian akibat perang.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Wakil Bidang Komunikasi dan Informasi Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabai, melalui akun media sosial resminya pada Minggu (5/4/2026).

Baca Juga: 10 Jurusan Sosial Paling Diminati di Indonesia 2026, Ini Kampus, Biaya, dan Prospek Kerjanya

Ia menegaskan, pembukaan kembali jalur vital tersebut hanya akan dilakukan jika sebagian pendapatan dari aktivitas transit digunakan untuk menutup kerusakan yang dialami Iran selama konflik berlangsung.

“Selat Hormuz akan dibuka kembali jika pendapatan transit dimanfaatkan untuk mengompensasi seluruh kerugian akibat perang yang dipaksakan,” tulis Tabatabai.

Tak hanya itu, Iran juga melontarkan kritik tajam kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Baca Juga: 10 Jurusan Peternakan Paling Prospektif di Indonesia 2026, Ini Kampus, Biaya, dan Peluang Kerjanya

Tabatabai menyebut pernyataan Trump belakangan ini sebagai bentuk keputusasaan dan kemarahan yang tidak berdasar.

Ia bahkan menuding Trump sebagai pihak yang memicu konflik besar di kawasan Timur Tengah, menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu eskalasi konflik yang semakin luas dan sulit dikendalikan.

Baca Juga: Di Tengah Konflik Timur Tengah, Iran Janji Permudah Kapal Tanker Indonesia Lewati Selat Hormuz Usai Bertemu MUI

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah target, termasuk wilayah Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menjadi basis militer Amerika Serikat.

Situasi tersebut membuat kawasan berada dalam status siaga tinggi.

Iran pun mengambil langkah strategis dengan membatasi pergerakan kapal di Selat Hormuz, jalur yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Langkah ini berdampak besar terhadap stabilitas global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak internasional.

Baca Juga: Cuma 1 Kali Telepon dan 2 Kali Pertemuan, Kesepakatan PLTSa Sarimukti Diteken Dedi Mulyadi dan Menteri LHK, Sampah Disulap jadi Energi Listrik

Keputusan Iran tersebut kini menjadi sorotan dunia, sekaligus menambah ketidakpastian di tengah kondisi geopolitik yang semakin kompleks.***