POJOKSATU.ID - Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Kali ini, sasaran ucapannya adalah Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dalam sebuah forum investasi di Florida, Sabtu (28/3/2026).
Alih-alih memperkuat hubungan strategis antara dua negara, Trump justru mengeluarkan komentar bernada merendahkan yang langsung menyita perhatian publik internasional.
"Dia (MBS) tidak mengira hal ini akan terjadi. Dia tidak mengira akan menjilat pantat saya. Dia benar-benar tidak menyangkanya," sesumbar Trump.
Pernyataan tersebut dinilai tidak pantas, apalagi disampaikan dalam forum resmi yang membahas kerja sama ekonomi bernilai besar.
Forum tersebut diketahui berkaitan dengan komitmen investasi Arab Saudi ke Amerika Serikat yang nilainya disebut mencapai 1 triliun dolar AS.
Baca Juga: Presiden Prabowo Siapkan Kebijakan WFH untuk ASN Demi Penghematan Energi Nasional, Ini Alasannya
Namun, suasana yang semestinya diplomatis berubah tegang setelah ucapan Trump memicu polemik.
Ucapan tersebut muncul di tengah situasi global yang sedang tidak stabil. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran terus memanas, memicu kekhawatiran akan dampak yang lebih luas terhadap keamanan dan ekonomi dunia.
Sejumlah analis menilai, pernyataan Trump berpotensi menjadi blunder diplomatik. Selain merusak etika komunikasi antarnegara, hal ini juga bisa mempengaruhi hubungan strategis antara Washington dan Riyadh.
Baca Juga: Kasus Amsal Sitepu Disorot DPR, Hari Ini Adakah RDPU, Tekanan Publik Mulai Ubah Arah Penanganan
Di sisi lain, muncul pula isu sensitif terkait dugaan peran Arab Saudi dalam dinamika konflik Iran.
Beberapa laporan menyebut adanya komunikasi intens antara kedua negara yang dikaitkan dengan strategi menghadapi Teheran.
Namun, pemerintah Arab Saudi dengan tegas membantah tudingan tersebut. Riyadh menegaskan bahwa mereka tetap mengedepankan jalur diplomasi dan penyelesaian damai dalam menghadapi konflik kawasan.
Pihak kerajaan juga menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah melindungi keamanan nasional, termasuk dari ancaman serangan yang menyasar infrastruktur dan warga sipil.
Tak hanya itu, Arab Saudi justru menilai Iran sebagai pihak yang memperkeruh situasi dengan memilih pendekatan politik yang dinilai berisiko tinggi.
Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya dinamika hubungan internasional saat ini. Di tengah upaya meredam konflik, pernyataan kontroversial justru berpotensi memperkeruh keadaan dan memicu ketegangan baru di tingkat global.***

