POJOKSATU.id,-- Presiden Masoud Pezeshkian dilaporkan bersitegang dengan pimpinan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) terkait kendali perang melawan Amerika Serikat dan Israel.

Sumber internal Iran yang dilaporkan media Iran International menyebut, Pezeshkian menyoroti tekanan berat perang terhadap ekonomi nasional dan stabilitas sosial.

Presiden Iran secara terbuka mengkritik pendekatan IRGC yang dinilai justru memperburuk situasi kawasan.

Baca Juga: Usai Lebaran THR PPPK Paruh Waktu di Cianjur Tak Kunjung Cair, Padahal Anggaran Rp900 Juta Sudah Disiapkan! Guru dan Tenaga Teknis Resah

“Pezeshkian mengkritik pendekatan IRGC yang meningkatkan ketegangan di kawasan dan menyerang negara-negara tetangga,” demikian disebutkan dalam laporan Iran International, seperti dikutip Minggu, 29 Maret 2026.

Tak berhenti di situ, Pezeshkian juga mendesak agar keputusan strategis terkait perang berada di bawah kendali pemerintah, bukan militer.

Ia menilai dominasi IRGC dalam pengambilan keputusan berisiko memperpanjang konflik dan memperdalam krisis domestik.

Baca Juga: Jutaan Warga Amerika Demo Presiden Donald Trump, Kritik Keterlibatan AS Perang dengan Iran

Namun tuntutan tersebut ditolak oleh petinggi IRGC, termasuk Ahmad Vahidi, yang tetap mempertahankan peran dominan korps tersebut.

Sebaliknya, IRGC justru melancarkan kritik balik terhadap presiden. Mereka menuding Pezeshkian gagal melakukan reformasi struktural sebelum perang pecah, sehingga memperburuk kondisi internal negara.

Di tengah konflik elite tersebut, kondisi ekonomi Iran terus merosot. Harga kebutuhan pokok melonjak drastis, bahkan disebut meningkat hingga 50 persen dibandingkan sebelum perang.

Tekanan ekonomi ini memperparah beban masyarakat yang sudah lama menghadapi krisis. Situasi semakin diperburuk dengan gangguan akses internet dan lumpuhnya berbagai layanan publik.

Banyak sektor industri mengalami kekurangan bahan baku, sementara sistem administrasi negara terganggu.***