POJOKSATU.id-- Sejumlah negara yang dianggap Iran sebagai negara sahabat ternyata dibiarkan bebas melewati Selat Hormuz di tengah konflik yang terjadi saat ini.

Dari tujuh negara yang disebut Iran sebagai negara sahabat, ternyata tidak ada nama Indonesia di dalamnya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup.

Namun akses pelayaran diberikan secara selektif kepada negara-negara tertentu yang dianggap bersahabat atau telah melakukan koordinasi dengan otoritas Iran.

Baca Juga: Ribuan Kapal Komersil Tersendat di Selat Hormuz, Dunia Terancam Lonjakan Harga Energi dan Logistik

"Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat," ujar Abbas Araghchi, seperti dikutip kantor berita Reuters, Jumat (27/3).

"Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman," jelasnya lagi.

"Seperti yang Anda lihat dalam pemberitaan: China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India. Dua kapal India melintas beberapa malam lalu, begitu pula dari negara lain, bahkan Bangladesh, saya kira. Negara-negara ini berbicara dan berkoordinasi dengan kami, dan hal ini akan terus berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang berakhir," lanjutnya.

Baca Juga: Gaji ke-13 ASN 2026 Cair Kapan? Ini Perbedaan Penting dengan THR yang Perlu Diketahui

 

Kapal Thailand Bisa Melintas

Kapal tanker minyak asal Thailand dibolehkan melewati Selat Hormuz dengan aman setelah adanya koordinasi diplomatik antara pemerintah Thailand dan Iran.

Keberhasilan pelayaran ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan yang berdampak pada lalu lintas kapal tanker minyak dunia, termasuk kapal milik Indonesia yang hingga kini masih tertahan.

Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengungkapkan bahwa kapal tanker milik Bangchak Corporation berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin (23/3/2026).

Keberhasilan tersebut terjadi setelah pembicaraan diplomatik antara Thailand dan Iran terkait jaminan keamanan pelayaran.

"Saya meminta apakah kapal-kapal Thailand yang perlu melewati selat dapat dibantu untuk memastikan pelayaran yang aman," kata Sihasak.

"Mereka menjawab bahwa mereka akan mengurusnya dan meminta kami menyampaikan daftar kapal yang akan melintas," sambungnya sebagaimana dikutip Bangkok Post.

Keberhasilan pelayaran ini terjadi sekitar dua minggu setelah kapal berbendera Thailand, Mayuree Naree, diserang proyektil saat melintasi selat strategis tersebut.***