POJOKSATU.ID - Pernyataan tajam dilontarkan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyindir keras sikap Amerika Serikat di tengah konflik yang terus memanas.
Dalam pidatonya, Araghchi menilai terjadi perubahan sikap mencolok dari Washington terhadap Teheran.
Ia menyebut, di awal konflik, Amerika Serikat menekan Iran agar menyerah tanpa syarat. Namun seiring berjalannya waktu, situasi justru berbalik.
Baca Juga: Makanan Penjaga Stamina saat Mudik, Ini Saran Ahli Gizi agar Pengemudi Tidak Mudah Mengantuk
Kini, menurutnya, AS justru membutuhkan bantuan negara lain untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka.
Araghchi menggambarkan kondisi tersebut sebagai ironi besar dalam dinamika konflik yang telah berlangsung selama lebih dari dua pekan.
Ia menegaskan bahwa strategi tekanan maksimum yang selama ini digunakan AS tidak mampu melemahkan Iran.
Baca Juga: Pemkab Karawang Sambut Yonif TP 941/Sangga Buana, Perkuat Keamanan dan Ketahanan Pangan
“Tahun ini menjadi salah satu periode paling berat dalam sejarah Iran. Kami kehilangan banyak tokoh penting, termasuk para martir bangsa. Namun kami tetap berdiri dengan tekad dan kehormatan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyinggung soal perubahan sikap AS yang dinilai inkonsisten. Dari sebelumnya meminta penyerahan tanpa syarat, kini justru menginginkan gencatan senjata dan dukungan internasional.
Sorotan utama juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.
Araghchi menegaskan bahwa selat tersebut sejatinya masih terbuka, tetapi tidak bagi pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Iran.
Menurutnya, pembatasan itu merupakan bentuk respons terhadap tindakan agresi yang dinilai tidak beradab terhadap Iran dan rakyatnya.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan membuka akses bagi pihak yang terlibat dalam tekanan atau serangan terhadap negaranya.
Pernyataan ini sekaligus mempertegas posisi Iran yang tidak akan mundur di tengah tekanan global.
Konflik yang terus berlangsung membuat kawasan semakin tegang, terutama karena Selat Hormuz menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Baca Juga: Bikin Heboh Jamaah! Aksi Maling yang Berujung Ditangkap di Masjid Istiqlal Saat Waktu Sahur
Situasi ini pun memicu kekhawatiran internasional terkait stabilitas energi global.
Jika ketegangan terus meningkat, dampaknya diprediksi tidak hanya dirasakan kawasan Timur Tengah, tetapi juga negara-negara lain yang bergantung pada pasokan energi dari jalur tersebut.***

