POJOKSATU.id-- Pakar Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Prof Yon Machmudi menilai peluang menuju perundingan damai saat ini antara Iran vs AS dan Israel masih jauh panggang dari api.

Terlebih lagi, tidak ada tanda-tanda bahwa Iran akan menyerah. Sementara itu, AS dan Israel tetap berambisi melumpuhkan kekuatan Iran.

Dalam situasi seperti sekarang, Yon memperkirakan konflik bersenjata antara Iran dan aliansi Israel-AS belum akan mereda dalam waktu dekat. Ia menilai, eskalasi konflik masih berada pada titik yang tinggi.

Salah satunya contohnya, serangan Israel ke sebuah kilang minyak milik Iran di Teheran pada Sabtu (7/3/2026) lalu. Lalu dibalas oleh Iran dengan menyerang kilang minyak Israel di Haifa.

Baca Juga: Bahlil Sebut dari Timteng Hanya Impor Minyak Mentah, Tak Perlu Panik Membeli BBM di SPBU

Iran pada Selasa (10/3/2026) mengeklaim telah sukses melancarkan serangan balasan (retaliation) yang menarget kilang minyak milik Israel di Haifa dengan menggunakan drone canggihnya.

Yon menegaskan, serangan dari pihak mana pun terhadap sektor energi berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas bagi kawasan Asia Barat. Jalur distribusi energi global juga bisa terganggu apabila konflik terus berlanjut.

“Ini pasti akan berdampak secara regional. Suplai minyak bisa semakin berkurang atau bahkan terputus dari Selat Hormuz,” ujar guru besar ilmu sejarah UI itu, Selasa (10/3/2026).

Karena itu, Yon menilai peluang menuju perundingan damai saat ini masih jauh panggang dari api.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Menteri ESDM Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman dan Minta Warga Tak Panic Buying

Terlebih lagi, tidak ada tanda-tanda bahwa Iran akan menyerah. Sementara itu, AS dan Israel tetap berambisi melumpuhkan kekuatan Iran.

"Titik temu dalam hal menuju negosiasi tampaknya belum terbuka. Puncak perang ini, saya kira, masih sangat tinggi tensinya," katanya dilansir republika.

"Perlawanan, retaliation, perang ini, saya kira, masih akan terus berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Karena, tidak ada tanda-tanda dari Iran akan menyerah, sementara AS dan Israel berambisi menghancurkan Iran," tukas Yon.

"Karena, tuntutan dari Trump dan Netanyahu bahwa setiap pemimpin baru (Iran) itu harus melibatkan AS. Jika tidak, maka akan jadi target pembunuhan berikutnya," ujarnya.

Di tengah eskalasi perang yang masih berlangsung, lanjut dia, kepemimpinan baru diperkirakan akan mempertegas sikap juang perlawanan Iran.

Menurut Yon, tekanan yang datang dari Washington maupun Tel Aviv justru memperkuat resistensi di dalam negeri Iran.

“Ini bentuk perlawanan baru yang dilakukan Iran. Mereka tidak mau tunduk terhadap tuntutan dan keinginan Amerika Serikat maupun Israel,” kata dia.***