POJOKSATU.id, IRAN-- Mojtaba Hosseini Khamenei atau Mojtaba Khamenei terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran atau Supreme Leader menggantikan ayahnya Ali Khamenei.
Dalam bahasa Arab, mojtaba memiliki arti terpilih atau orang yang terpilih.
Dengan terpilihnya Mojtaba sebagai Supreme Leader terbaru, Mojtaba resmi menyandang gelar Ayatollah.
Khamenei ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi oleh badan ulama tertinggi, Majelis Ahli, dalam pernyataan yang dipublikasikan pada Senin (9/3).
Baca Juga: Mengenal Tunik Bini Sah, Tren Busana Muslimah yang Viral Jelang Lebaran 2026
Lahir pada 8 September 1969 di kota suci Mashhad di Iran timur, Mojtaba Khamenei merupakan salah satu dari enam anak Ali Khamenei.
Mojtaba Khamenei dikenal sebagai pribadi yang sangat tertutup bahkan di acara resmi dan di depan media.
Umurnya masih 56 tahun. Dan dianggap sebagai ulama kelas menengah dan telah lama digadang-gadang sebagai penerus sang ayah.
Ulama yang memiliki janggut beruban dan mengenakan sorban hitam itu memiliki garis keturunan Nabi Muhammad dari garis Husein bin Ali bin Abi Thalib atau garis Fatimah Azzahra.
Baca Juga: Viral! Kades Rahong Labrak ASN Dinsos Diduga Pungli Bansos, Warga Ikut Ngamuk di Lokasi
Sebagian pihak menilai riwayat itu memainkan peran di balik layar dalam mengendalikan kekuasaan di Iran.
Mojtaba Khamenei dipandang dekat dengan kalangan konservatif, terutama karena hubungannya dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), sayap ideologis militer Republik Islam Iran.
Hubungan tersebut berawal dari pengabdian dirinya dalam unit tempur pada akhir perang Iran-Irak yang berlangsung dari 1980 hingga 1988.
Selain Mojtaba Khamenei dalam pemiihan Majelis Ahli, beberapa kandidat lain muncul untuk posisi tertinggi tersebut termasuk Alireza Arafi, salah satu dari tiga anggota dewan sementara yang memimpin negara.
Tokoh garis keras Mohsen Araki, serta Hassan Khomeini yakni cucu pendiri Republik Islam Iran pada 1979.
Namun pada akhirnya Majelis Ahli memilih Mojtaba Khamenei, untuk menduduki jabatan tertinggi di Iran tersebut.
Sejauh ini, badan beranggotakan 88 ulama tinggi itu baru satu kali mengawasi proses transisi kepemimpinan, yakni ketika Ali Khamenei dipilih pada 1989 setelah Ruhollah Khomeini wafat.***

