POJOKSATU.id,-- Sikap Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang minta maaf ke negara tetangganya malah ditafsir berbeda oleh Presiden AS Donald Trump.

Trump menyebut Iran sudah menyerah karena meminta maaf telah menyerang negara-negara tetangga di kawasan Teluk, dan berjanji tak akan melakukannya lagi.

Menurut Trump, kata maaf dan janji yang diucapkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian muncul akibat tekanan militer terus-menerus dari AS dan Israel.

“Janji ini hanya dibuat karena serangan tanpa henti dari AS dan Israel,” tulis Trump dalam unggahan di platform Truth Social pada Sabtu (7/3/2026) dikutip dari Al Jazeera.

Baca Juga: 10 Tempat Ngabuburit Murah di Jakarta yang Ramai Saat Ramadan, dari Taman Kota hingga Pasar Takjil

Presiden ke-47 AS itu juga melontarkan ancaman untuk menggempur Iran lebih keras lagi.

Trump memberi sinyal akan ada operasi militer tambahan. Ia menyebut pemerintahannya sedang mempertimbangkan serangan terhadap target-target baru di Iran.

“Ada pertimbangan serius penghancuran total dan kematian pasti, karena perilaku buruk Iran, yaitu di daerah dan kelompok orang yang belum dipertimbangkan untuk ditargetkan hingga saat ini,” katanya.

Sementara itu, Israel dan Amerika telah menghancurkan ratusan rudal balistik, peluncur, dan drone Iran, dengan menargetkan fasilitas yang oleh Iran disebut sebagai 'kota-kota rudal', yakni lokasi gudang rudal dan peluncurnya.

Baca Juga: Minggu Kedua Perang Timur Tengah, Presiden Iran Minta Maaf ke Tetangga, Tegaskan Tak akan Menyerah

“Kami mengidentifikasi penurunan jumlah peluncuran harian (ke Israel),” kata juru bicara militer Israel, Effie Defrin, Kamis.

Namun, ia menambahkan bahwa Teheran masih memiliki kemampuan untuk menembakkan rudal ke wilayah Israel.

Militer Israel juga menyebutkan bahwa Iran mulai meluncurkan rudal dalam jumlah lebih kecil.

Pada Rabu (4/3/2026), misalnya, Iran bahkan sempat hanya menembakkan satu rudal dalam satu waktu.

Kelompok pemantau konflik ACLED juga mencatat tren penurunan serangan sejak awal konflik.

Berdasarkan analisis mereka terhadap laporan media lokal dan jaringan sumber di lapangan, jumlah serangan rudal turun sekitar 80 persen.***