POJOKSATU.id - Pertikaian antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki hari keempat dan menunjukkan eskalasi yang semakin mengkhawatirkan.
Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran berkembang menjadi konflik regional setelah Teheran meluncurkan gempuran ke sejumlah negara Arab yang disebut sebagai sekutu Washington.
Sejumlah negara mulai terlibat. Inggris bahkan dilaporkan mengizinkan AS menggunakan pangkalan militernya di Siprus.
Meski demikian, masih terlalu dini untuk mengetahui kapan dan bagaimana perang ini akan berakhir.
Sejarah menunjukkan, begitu perang dimulai, mengendalikannya bukan perkara mudah.
Definisi Kemenangan Versi Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump, sejak awal menggambarkan konsep kemenangan dengan tegas: menghancurkan total kemampuan rudal dan militer Iran.
Ia berulang kali menyebut ancaman rudal Teheran sebagai alasan utama tindakan militer.
Trump juga mendorong rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka sendiri jika rezim saat ini melemah.
Namun, banyak analis menilai peluang perubahan rezim hanya melalui serangan udara sangat kecil, kecuali disertai operasi darat seperti yang terjadi di Irak pada 2003.
Langkah Trump ini dinilai sebagai pertaruhan besar.
Jika rezim tetap bertahan, risiko konflik berkepanjangan akan semakin besar, termasuk kemungkinan Iran meluncurkan lebih banyak rudal sebagai bentuk perlawanan.
Hitung-hitungan Benjamin Netanyahu
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga menyerukan warga Iran untuk melawan pemerintahnya.
Namun prioritas utamanya adalah menghancurkan kemampuan militer Iran serta jaringan militernya di kawasan yang dianggap mengancam Israel.
Bagi Netanyahu, Iran merupakan ancaman eksistensial bagi negara Yahudi tersebut.
Ia meyakini Republik Islam Iran berambisi mengembangkan senjata nuklir untuk menghancurkan Israel.
Dimensi politik dalam negeri turut memengaruhi sikapnya.
Dengan pemilu yang semakin dekat dan tekanan politik pascaserangan Hamas 7 Oktober 2023, kemenangan besar atas Iran dapat menjadi penyelamat karier politiknya.
Apakah Rezim Iran Akan Runtuh?
Meski pemimpin tertinggi Iran dilaporkan tewas dalam serangan, bukan berarti sistem pemerintahan langsung runtuh.
Republik Islam Iran dirancang sebagai sistem institusional yang kompleks dan tidak bergantung pada satu figur semata.
Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menjadi tulang punggung pertahanan rezim.
Dengan ratusan ribu personel aktif dan cadangan, serta dukungan pasukan paramiliter Basij, struktur keamanan Iran dinilai masih solid.
Bagi pemerintah Iran, definisi kemenangan bukanlah ekspansi, melainkan bertahan. Selama sistem kekuasaan dan institusi utama tetap berdiri, mereka menganggap diri belum kalah.
Risiko Kekacauan Regional
AS dan Israel meyakini kekuatan militer dapat memaksakan perubahan rezim tanpa memicu bencana besar.
Namun preseden di Irak dan Libya menunjukkan bahwa kejatuhan rezim sering diikuti kekosongan kekuasaan, konflik internal, hingga kemunculan kelompok ekstremis.
Iran merupakan negara besar dengan populasi lebih dari 90 juta jiwa dan komposisi etnis yang beragam.
Jika rezim runtuh secara paksa, skenario terburuknya adalah perang saudara berkepanjangan yang dapat mengguncang stabilitas kawasan dan pasar energi global, termasuk jalur vital di Selat Hormuz.
Di sisi lain, sebagian warga Iran mungkin menginginkan perubahan. Namun mengganti sistem lama dengan tatanan baru yang stabil dan damai bukan perkara sederhana.
Perang ini bukan sekadar adu kekuatan militer, melainkan pertarungan narasi tentang siapa yang mampu bertahan dan siapa yang benar-benar menang.
Di tengah dentuman rudal dan manuver politik, yang paling dipertaruhkan bukan hanya kekuasaan, tetapi masa depan jutaan rakyat di kawasan yang telah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang konflik.***

