POJOKSATU.id, JAKARTA— Iran mengambil kebijakan menutup sebagian Selat Hormuz pada Selasa (17/2) waktu setempat.

Garda Revolusi Iran mengklaim penutupan bertujuan menjamin keselamatan pelayaran selama latihan militer mereka yang bertajuk "Smart Control of the Strait of Hormuz".

Latihan ini disebut untuk meningkatkan kesiapan operasional dan memperkuat Iran.

Berlokasi di antara Oman dan Iran, Selat Hormuz dikenal sebagai choke point atau titik hambat minyak terpenting di bumi.

Baca Juga: AHY Sebut Presiden Prabowo Ingin Batam Disiapkan Jadi Gerbang Ekonomi Dunia dan Pusat Investasi Global

Berdasarkan data firma Kpler, sekitar 13 juta barel minyak mentah melintasi selat ini per harinya sepanjang 2025. Angka itu menyumbang 31 persen dari total aliran minyak mentah dunia lewat jalur laut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut ada titik terang dalam pertemuan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang digelar di Jenewa, Swiss.

Ia mengklaim kedua pihak sudah mencapai kesepahaman terkait prinsip-prinsip panduan.

"Namun kemajuan ini bukan berarti kesepakatan akan segera dicapai. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan," ujar Araghchi dikutip dari CNBC, Rabu (18/2/2026).

 

Harga Minyak Turun

Melihat penutupan sebagian selat ini, harga minyak dunia terpantau bergerak turun setelah sebelumnya sempat menguat.

Harga minyak Brent turun 1,8% ke level US$ 67,48 per barel. Sementara, West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,4% ke level US$ 62,65 per barel.

Chief Safety and Security Officer Bimco, Jakob Larsen, menilai penutupan ini hanya akan berdampak kecil bagi kapal-kapal yang menuju Teluk Persia.

"Latihan ini menetapkan area uji tembak yang tumpang tindih dengan jalur masuk kapal. Mengingat tensi yang tinggi, kapal komersial dipastikan akan patuh untuk menjauh demi keamanan," kata Larsen.***