POJOKSATU.id, JAKARTA-- Pesawat pembom siluman B-2 dan pesawat Amerika Serikat (AS) lainnya status siaga tinggi sejak sebulan lalu untuk bersiap-siap menyerang Iran.

Pentagon juga terus memperkuat kehadiran aset militer di kawasan Timur Tengah, demikian dilaporkan The New York Times.

Diketahui Pentagon merupakan simbol atau sebutan populer untuk Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Department of Defense) di Arlington, Virginia.

Laporan The New York Times ini mengutip seorang pejabat senior AS yang meminta namanya dirahasiakan, bahwa Pentagon meningkatkan status siaga pesawat pembom itu hampir sebulan lalu.

Baca Juga: Waduh! Gaji PPPK Paruh Waktu 2026 Cuma Cair Sekali di Februari, Januari Tak Dirapel? Ternyata Sistem Pascabayar Biang Keroknya!

Pesawat-pesawat yang berbasis di AS itu dapat digunakan untuk kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir atau rudal balistik Iran jika upaya diplomasi gagal.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa AS bisa menyerang Iran jika negara itu menolak untuk membatasi program nuklirnya.

Namun pejabat keamanan nasional senior AS dilaporkan mendorong Trump agar menunda tindakan militer hingga pasukan AS di wilayah itu lebih siap dalam hal penyerangan dan pertahanan.

Sekitar 30.000 hingga 40.000 tentara Amerika yang tersebar di Timur Tengah, termasuk di delapan pangkalan permanen, disebut kekurangan sistem pertahanan udara untuk melindungi mereka dari kemungkinan serangan balasan.

Baca Juga: Jokowi Buka Suara Soal UU KPK, Setuju Kembali ke Aturan Lama dan Singgung Peran DPR Saat Revisi

Washington juga telah memperluas kehadiran angkatan lautnya di kawasan. Gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dan beberapa kapal pengawal berpeluru kendali Tomahawk menjadi bagian dari kelompok sekitar selusin kapal AS yang dikerahkan di Laut Arab, Teluk Persia, Laut Merah, dan timur Laut Mediterania.

Tujuannya untuk memperkuat postur militer AS di tengah ketegangan yang meningkat.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan bahwa Presiden Trump menempatkan semua opsi di atas meja terkait Iran, dan keputusan akan dibuat berdasarkan kepentingan keamanan nasional.

Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk keperluan sipil.

Pejabat AS menyebut penguatan militer ini dimaksudkan untuk memastikan kesiapsiagaan dan mencegah balasan jika upaya diplomasi gagal dilakukan.

Sementara itu, analis militer menyatakan bahwa persiapan untuk operasi besar sering kali ditandai dengan peningkatan jumlah pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara serta pesawat perang elektronik yang mengawal pesawat pembom.

Selain itu, analis mengatakan bahwa pemindahan kapal selam rudal balistik yang biasanya beroperasi di Laut Mediterania ke Laut Merah atau Laut Arab bisa menjadi indikator perencanaan ofensif.

Kapal selam tersebut mampu membawa banyak rudal jelajah Tomahawk yang dapat meningkatkan kapasitas serangan AS jika diperlukan.

Data pelacakan penerbangan menunjukkan langkah pemindahan tambahan pesawat, termasuk tanker dan pesawat pengintai, bergerak lebih dekat atau memasuki kawasan Timur Tengah.***