POJOKSATU.id, JAKARTA—Dua negara bertetangga Myanmar dan Thailand mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi skala 7,7 magnitudo yang berpusat di Sagaing, Myanmar, Jumat (28/3).

Menurut laporan US Geological Survey, gempa pertama berkekuatan magnitudo 7,7 disusul oleh gempa susulan kedua berkekuatan 6,4 magnitudo.

Data sementara korban tewas di Myanmar mencapai 25 orang sesuai laporan dari media lokal di negara tersebut.

Baca Juga: Jumlah Korban Sementara Gempa Myanmar 7,7 Magnitudo, 3 Tewas 43 Pekerja Terjebak Reruntuhan

Menurut laporan Eleven Media Group, sebuah biara di kota Taungoo runtuh yang menewaskan lima orang.

Sementara dari laporan Khit Thit Media, setidaknya 20 orang meninggal saat gempa mengguncang Masjid Shwe Pho Shing di wilayah Mandalay saat ibadah salat berlangsung.

“(Masjid) itu runtuh saat kami sedang beribadah. Sekitar tiga masjid ambruk. Ada orang yang terjebak. Saat ini, setidaknya 20 orang telah meninggal, dan jumlah korban bisa bertambah. Masjid Shwe Pho Shing juga runtuh,” ujar seorang petugas penyelamat.

Baca Juga: Puncak Arus Mudik, Kemacetan Panjang Terjadi di Tol Semarang Capai 8 Km, Sejumlah Kendaraan Mogok

Upaya evakuasi terhadap para korban yang masih terperangkap terus dilakukan petugas penyelamat.

90 Orang Hilang di Thailand

Menteri Pertahanan Thailand, Phumtham Wechayachai, dikutip dari laman The Guardian, Jumat (28/3/2025) mengatakan, jumlah korban tewas akibat gempa yang mengguncang Myanmar dan Thailand menjadi tiga orang, sementara 90 orang lainnya dinyatakan hilang.

Kebanyakan dari mereka yang masih hilang berada di bawah reruntuhan gedung tinggi.

Menhan tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang upaya penyelamatan, tetapi petugas tanggap darurat mengatakan bahwa tujuh orang telah berhasil diselamatkan sejauh ini dari luar gedung yang runtuh.

Baca Juga: Info Mudik 2025, Kecelakaan 3 Kendaraan di Tol Ngawi-Solo, 7 Pemudik Dilarikan ke RS

Rumah Sakit Kewalahan

Rumah sakit di Ibu Kota Myanmar, Naypyidaw, kewalahan menampung korban imbas gempa dahsyat berkekuatan 7,7 magnitudo, Jumat (28/3).

Jurnalis AFP melihat pintu masuk unit gawat darurat di rumah sakit itu terdampak imbas gempa.

Rumah sakit ini memiliki 1.000 tempat tidur, tetapi banyak pasien yang terlihat di luar dan halaman rumah sakit. Beberapa orang meronta kesakitan sementara yang lain tak berdaya.

"Ini adalah area korban massal," kata salah satu pejabat di rumah sakit sembari mengantar awak media pergi.

Petugas medis lain di rumah sakit itu mengatakan ratusan korban luka dirawat di rumah sakit tersebut.

"Saya belum pernah melihat seperti ini sebelumnya. Kami berusaha menangani situasi ini. Saya sangat lelah sekarang," kata salah satu dokter.

Rute menuju rumah sakit itu juga penuh dengan kendaraan yang ingin mengantar pasien untuk berobat.***