POJOKSATU.id — Baru saja resmi dilantik sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat pada Senin (20/1/2025) di Gedung Capitol, Washington DC, Donald Trump sudah langsung ngegas.
Trump menyampaikan langkah kontroversial di awal pemerintahannya, termasuk penetapan darurat nasional di perbatasan selatan dengan Meksiko.
“Pertama, saya akan mendeklarasikan darurat nasional di perbatasan Selatan kita,” ujarnya dalam pidato saat pelantikan.
Kebijakan ini, menurutnya, bertujuan menghentikan migrasi ilegal dan memulangkan imigran ke negara asal mereka.
“Kami akan memberlakukan kembali kebijakan Tetap di Meksiko,” tambahnya.
Baca Juga: Donald Trump Era Sebagai Presiden Terpilih AS Umumkan Elon Musk Sebagai Menteri!
Sebagai informasi, migrasi ilegal dari Meksiko ke Amerika Serikat telah menjadi salah satu isu besar dalam hubungan kedua negara.
Fenomena ini melibatkan kelompok dan perorangan yang melintasi perbatasan tanpa izin resmi, dengan tujuan mencari peluang ekonomi, perlindungan dari kekerasan, atau kehidupan yang lebih baik.
Banyak migran berasal dari Meksiko, bahkan kini orang-orang dari Amerika Tengah seperti Guatemala, Honduras, dan El Salvador juga menggunakan Meksiko sebagai jalur transit menuju Amerika Serikat.
Mundur dari Anggota WHO
Tak lama setelah dilantik, Trump juga menandatangani sejumlah perintah eksekutif yang mempertegas arah kebijakannya.
Salah satunya adalah keputusan untuk menarik Amerika Serikat dari keanggotaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Keputusan tersebut diumumkan pada hari yang sama, Senin (20/1/2025), dan menjadi salah satu kebijakan paling mencolok di hari pertamanya menjabat.
“WHO telah menipu kami,” kata Trump seperti dikutip AFP.
Baca Juga: Waspada! Inilah 7 Dampak di Indonesia, Jika Donald Trump Kembali Jadi Presiden AS
Ia juga menambahkan bahwa Amerika Serikat telah membayar kontribusi lebih besar dibandingkan China kepada WHO.
Keputusan ini akan berlaku efektif dalam 12 bulan, di mana AS menghentikan semua kontribusi finansial kepada badan kesehatan PBB tersebut.
Sejauh ini, AS merupakan penyumbang dana terbesar WHO, dengan kontribusi mencapai sekitar 18 persen dari total pendanaan organisasi tersebut.
Dalam dua tahun terakhir, anggaran WHO untuk periode 2024-2025 tercatat sebesar $6,8 miliar.
Keputusan Trump menarik diri dari WHO tidak sepenuhnya mengejutkan, mengingat langkah serupa pernah dilakukan pada tahun 2020.
Saat itu, ia menuduh WHO membantu China menyesatkan dunia terkait asal-usul COVID-19.
Keluar dari Perjanjian Iklim Paris
Selain kebijakan kesehatan, Trump juga memperlihatkan sikapnya terhadap isu lingkungan.
Dalam perintah eksekutif lainnya, ia memutuskan untuk menarik AS dari perjanjian iklim Paris.
Langkah ini sejalan dengan niatnya untuk menggandakan penggunaan bahan bakar fosil dan membatalkan kemajuan AS dalam upaya mitigasi perubahan iklim serta pengembangan energi bersih.
Keputusan ini diumumkan saat Amerika Serikat menghadapi tantangan nyata dari perubahan iklim, termasuk kebakaran besar di California Selatan dan kerusakan akibat badai Helene dan Milton yang melanda wilayah Tenggara.
Perjanjian Iklim Paris merupakan kesepakatan global yang dicapai dalam Conference of the Parties (COP 21) di Paris, Prancis, pada 12 Desember 2015.
Kesepakatan ini menjadi langkah penting dunia dalam menghadapi ancaman perubahan iklim, dengan tujuan utama membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat Celsius dibandingkan tingkat pra-industri.
Selain itu, perjanjian ini juga mendorong upaya lebih besar untuk menekan kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celsius guna mengurangi dampak buruk perubahan iklim seperti cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan laut.
Sebagai bagian dari komitmen, negara-negara yang bergabung diwajibkan menyusun rencana aksi nasional yang dikenal sebagai Nationally Determined Contributions (NDC) untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. ***

