POJOKSATU.id – Sebelum uang menjadi alat pembayaran yang mendominasi perdagangan dunia, manusia mengenal satu cara yang jauh lebih tua: barter.

Orang menukar hasil panen dengan ternak, garam dengan kain, atau logam dengan rempah-rempah.

Cara sederhana itu menjadi fondasi perdagangan selama ribuan tahun sebelum lahirnya mata uang.

Baca Juga: Jangan Sampai Tertipu! Ini Cara Memastikan Sertifikat Tanah Asli Sebelum Membeli

Seiring berkembangnya peradaban, barter perlahan ditinggalkan karena uang dianggap jauh lebih praktis.

Namun sejarah menunjukkan bahwa sistem kuno ini tidak pernah benar-benar menghilang.

Dalam situasi tertentu, bahkan negara modern pun masih memanfaatkannya sebagai strategi perdagangan dan diplomasi.

Di berbagai belahan dunia, barter kerap muncul ketika kondisi ekonomi sedang terguncang.

Baca Juga: Cek Sekarang! Bantuan Beras 30 Kg Agustus 2026 untuk 33,24 Juta KPM, Ini Syarat dan Jadwalnya

Di Venezuela, misalnya, nelayan pernah menukar hasil tangkapan mereka dengan bahan makanan atau obat-obatan ketika hiperinflasi membuat mata uang kehilangan nilai.

Yunani juga sempat mengenal jaringan barter ketika dihantam krisis utang pada awal dekade 2010-an. Namun Indonesia memiliki kisah yang berbeda.

Barter bukan dilakukan karena negara kehabisan uang, melainkan dijadikan strategi untuk membuka pasar internasional bagi industri dirgantara yang sedang tumbuh.

Baca Juga: Beasiswa Bakti BCA 2026 untuk Mahasiswa S1, Ini Komponen, Syarat Khusus, dan Jadwal Seleksinya

Ketika Pesawat Indonesia Ditukar dengan Beras Ketan
Pertengahan dekade 1990-an merupakan masa penuh optimisme bagi industri penerbangan nasional.

Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia, sedang berusaha membuktikan bahwa Indonesia mampu memproduksi pesawat yang layak bersaing di pasar dunia.

Di balik semangat itu berdiri sosok Prof. B.J. Habibie, Menteri Riset dan Teknologi sekaligus tokoh utama pengembangan industri strategis nasional.

Baca Juga: Ombudsman RI Takjub Lihat Layanan Kesehatan Jember Era Gus Fawait, Dinilai Layak Jadi Percontohan Nasional

Tahun 1996, lahirlah sebuah transaksi yang kemudian dikenang sebagai salah satu barter paling unik dalam sejarah Indonesia.

IPTN menyerahkan dua unit pesawat angkut CN-235 kepada Thailand. Sebagai imbalannya, Indonesia memperoleh sekitar 110.000 ton beras ketan.

Sekilas transaksi tersebut terdengar ganjil. Mengapa pesawat ditukar dengan beras?

Jawabannya ternyata lebih kompleks daripada sekadar pertukaran barang.

Baca Juga: Usai Konsultasi ke PT SMI, Fraksi NasDem Akhirnya Beri Lampu Hijau Rencana Pemkab Jember Pinjam Rp786 Miliar

Saat itu kondisi keuangan Indonesia belum memasuki krisis. Krisis moneter Asia baru meledak pada akhir 1997.

Karena itu, barter tersebut bukan dilakukan karena pemerintah kekurangan dana, melainkan sebagai strategi perdagangan agar produk pesawat Indonesia memperoleh pintu masuk ke pasar internasional.

Profesor ekonomi Travis Taylor, yang dikutip BBC News Indonesia, menjelaskan bahwa mekanisme seperti ini sering digunakan untuk memicu transaksi pertama di pasar baru.

Ketika sebuah negara berhasil menjual produk berteknologi tinggi kepada pembeli asing, reputasi industrinya ikut terangkat sehingga peluang ekspor berikutnya menjadi lebih besar.

Baca Juga: Buat Beton Kokoh Walau Minim Sinar Matahari, Gunakan Obat Cor Beton Berkualitas

Transaksi tersebut juga memperlihatkan fleksibilitas perdagangan internasional. Thailand memiliki komoditas beras ketan dalam jumlah besar, sementara Indonesia sedang membutuhkan pasokan komoditas tersebut.

Namun saat itu, ekonom senior Kwik Kian Gie juga sempat mempertanyakan mengapa komoditas yang dipilih justru beras ketan yang pasarnya relatif khusus di Indonesia.

Habibie kemudian memberikan penjelasan bahwa secara teknis Thailand tetap membayar pesawat tersebut, kemudian dana hasil pembayaran digunakan untuk membeli beras ketan sebagai bagian dari skema perdagangan kedua negara.

Dengan demikian, transaksi itu bukan sekadar tukar-menukar sederhana, melainkan bagian dari mekanisme perdagangan internasional yang lebih kompleks.

Baca Juga: Teks Ikrar Pelajar Indonesia Berubah, Ini Isi Terbaru yang Wajib Dibaca Saat Upacara Bendera Mulai Tahun Ajaran 2026-2027

CN-235, Pesawat yang Membawa Nama Indonesia
Keberhasilan barter tersebut tidak dapat dilepaskan dari kualitas pesawat CN-235 sendiri.

Pesawat turboprop bermesin ganda hasil kerja sama IPTN dengan CASA Spanyol itu dirancang sebagai pesawat angkut serbaguna yang mampu beroperasi di wilayah dengan infrastruktur terbatas.

CN-235 mempunyai kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL), sehingga dapat lepas landas dan mendarat di landasan pendek, bahkan yang belum beraspal.

Kemampuan itu sangat sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang memiliki ribuan pulau.

Baca Juga: DRP Buat Laporan Polisi Ingin Bongkar Aktor Intelektual Di Balik Terlapor, Siapa Dibelakang Kedua Wanita Inisial N Yang Dilaporkan?

Di bagian belakang pesawat terdapat pintu rampa besar yang memungkinkan kendaraan ringan, logistik, maupun pasukan diterjunkan dengan cepat.

Dalam konfigurasi militer, pesawat ini mampu mengangkut sekitar 48 personel atau muatan hingga enam ton.

Keunggulan lain adalah fleksibilitasnya. Platform CN-235 dapat diubah menjadi pesawat patroli maritim, pesawat pengintai, hingga pesawat evakuasi medis.

Tidak mengherankan jika kemudian pesawat ini digunakan oleh berbagai negara.

Baca Juga: 50 Soal Cerdas Cermat 17 Agustus Tingkat SD Beserta Jawabannya, Cocok untuk Lomba HUT RI 2026

Dua Dekade Kemudian, Kopi dan Karet Hampir Menjadi Alat Tukar Jet Tempur
Lebih dari dua puluh tahun setelah barter beras ketan, Indonesia kembali menarik perhatian dunia.

Kali ini bukan pesawat yang dijual, melainkan rencana mendatangkan 11 jet tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia melalui skema imbal dagang atau countertrade.

Berbeda dengan barter CN-235, kebijakan ini berangkat dari ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan yang mendorong adanya imbal dagang, kandungan lokal, maupun transfer teknologi dalam pembelian alat utama sistem persenjataan.

Pemerintah kemudian menawarkan berbagai komoditas unggulan Indonesia seperti kopi, karet, teh, dan minyak sawit sebagai bagian dari nilai transaksi.

Baca Juga: Sawit Run 5K dan Festival Sawit Sehat 2026 Semarakkan Dies Natalis ke-20 Politeknik CWE

Skema tersebut juga dianggap menguntungkan Rusia yang saat itu sedang menghadapi pembatasan perdagangan dari negara-negara Barat akibat sanksi ekonomi.

Di atas kertas, rencana itu tampak menjanjikan. Nilai kontrak mencapai sekitar USD1,14 miliar, dengan sebagian pembayaran dilakukan melalui mekanisme pembelian komoditas Indonesia.

Rencana yang Terhenti oleh Politik Global
Namun sejarah kembali menunjukkan bahwa perdagangan internasional tidak hanya ditentukan oleh kesepakatan dua negara.

Pada 2017 Amerika Serikat mengesahkan CAATSA (Countering America's Adversaries Through Sanctions Act), undang-undang yang memungkinkan pemberian sanksi kepada negara yang melakukan transaksi pertahanan tertentu dengan Rusia.

Baca Juga: Bupati Bandung Lepas Capaska 2026 ke Pusdiklat, Siap Tempaan Menuju Tugas Sakral 17 Agustus

Risiko tersebut menjadi pertimbangan besar bagi Indonesia. Pemerintah akhirnya tidak melanjutkan realisasi pembelian Su-35.

Sebagai gantinya, Indonesia mengalihkan modernisasi armada tempur melalui pengadaan pesawat Rafale dari Prancis dan menjajaki pembelian F-15EX dari Amerika Serikat.

Pihak Rusia sendiri beberapa kali menyatakan bahwa kontrak Su-35 tidak dibatalkan secara resmi, melainkan berada dalam status dibekukan.

Hingga kini, jet tempur tersebut tidak pernah bergabung dalam armada TNI Angkatan Udara.

Baca Juga: Bagaimana Hujan Buatan Dilakukan? Kenali Tahapan dan Faktor Keberhasilannya

Dari Sawah hingga Langit
Jika diperhatikan, dua kisah tersebut memperlihatkan wajah berbeda dari sebuah barter.

Pada 1996, barter menjadi alat diplomasi ekonomi untuk memperkenalkan kemampuan industri dirgantara Indonesia kepada dunia.

Bukan karena negara sedang miskin, tetapi karena pemerintah memilih jalan perdagangan yang kreatif agar produk nasional memperoleh pengakuan internasional.

Sebaliknya, rencana barter Su-35 menunjukkan bahwa perdagangan modern tidak hanya bergantung pada kebutuhan ekonomi, melainkan juga dipengaruhi persaingan geopolitik, sanksi internasional, dan kepentingan strategis negara-negara besar.

Baca Juga: Jadwal SKT PPPK Sekolah Rakyat Kemensos 2026 Dimulai, Cek Link Pengumuman Resmi dan Tahapan Terbarunya

Sejarah akhirnya mengajarkan bahwa nilai sebuah pesawat tidak selalu dibayar dengan tumpukan uang.

Pernah ada masa ketika hasil sawah Thailand menjadi harga bagi karya insinyur Indonesia.

Pernah pula ada masa ketika kopi, karet, dan sawit hampir menjadi tiket masuk jet tempur Rusia ke Nusantara.

Di balik kisah-kisah yang terdengar tidak biasa itu tersimpan pelajaran penting: dalam hubungan antarnegara, kreativitas berdagang sering kali sama pentingnya dengan kecanggihan teknologi.

Sebab pada akhirnya, yang dipertukarkan bukan sekadar barang, melainkan juga kepercayaan, kepentingan, dan posisi sebuah bangsa di panggung dunia. ***