POJOKSATU.id - Masjid Pathok Negara merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut lima masjid penting di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki kaitan erat dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Masjid-masjid ini dikelola dan dibina oleh pihak keraton sebagai bagian dari pembinaan keimanan masyarakat sekaligus mendukung berbagai kegiatan keagamaan kerajaan.

Keberadaan masjid pathok negara tidak terlepas dari sejarah pemerintahan Sultan Hamengkubuwana I.

Pada masa itu, empat masjid didirikan di empat penjuru mata angin sebagai penanda batas wilayah kerajaan atau kuthanegara.

Baca Juga: Pemerintah Gelar Sidang Isbat Oleh Kemenag Hari Ini, Penentuan Idulfitri 1 Syawal 1447 H

Selain empat masjid tersebut, terdapat satu masjid lain yang berada di wilayah Wonokromo, Bantul, yang lokasinya dekat dengan bekas Keraton Pleret dan Keraton Kerto. Konsep penempatan lima masjid ini dikenal dengan filosofi “empat plus satu”.

Konsep tersebut berkaitan dengan filosofi Jawa sedulur papat lima pancer, yang melambangkan keseimbangan sekaligus perlindungan bagi keberlangsungan kerajaan.

Makna Pathok Negara
Secara harfiah, kata pathok berarti sesuatu yang ditancapkan sebagai penanda atau batas wilayah.

Baca Juga: Masjid Pathok Negara, Penanda Batas Kerajaan dan Pusat Keagamaan di Yogyakarta

Kata ini juga dapat dimaknai sebagai pedoman, aturan, atau dasar hukum.

Sementara itu, kata negara dalam konteks ini merujuk pada kerajaan atau pemerintahan.

Dengan demikian, masjid pathok negara dapat diartikan sebagai masjid yang berfungsi sebagai penanda wilayah kerajaan sekaligus pedoman spiritual bagi masyarakat.

Lokasi Masjid Pathok Negara
Empat masjid pathok negara berada di empat penjuru mata angin yang mengelilingi wilayah pinggiran kuthanegara dan berada di batas wilayah negaragung Kesultanan Yogyakarta.

Baca Juga: Masjid Negara IKN: Masjid Raya Nusantara yang Disiapkan Menjadi Ikon Ibu Kota Baru

Keempat masjid tersebut adalah Masjid An-Nur di Mlangi yang berada di sisi barat, Masjid Sulthoni Plosokuning di wilayah Ngaglik yang berada di utara, Masjid Ad-Darajat di Banguntapan yang berada di sisi timur, serta Masjid Nurul Huda di Dongkelan yang berada di sisi selatan.

Selain itu terdapat satu masjid lain yaitu Masjid Taqwa di Wonokromo, Pleret, Bantul.

Masjid ini memiliki fungsi untuk mendukung kegiatan keagamaan yang berkaitan dengan bekas Keraton Kerto dan Pleret yang merupakan pusat pemerintahan pada masa Kerajaan Mataram Islam.

Fungsi Masjid Pathok Negara
Masjid-masjid pathok negara memiliki berbagai fungsi penting dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan kerajaan pada masa lalu.

Baca Juga: Staycation Lebaran Anti-Ribet: Nikmati Sisi Tenang Ibu Kota di Ascott Kuningan Jakarta

Selain menjadi penanda batas wilayah antara kuthanegara dan negaragung, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, tempat pelaksanaan kegiatan dan upacara keagamaan, serta bagian dari sistem pertahanan kerajaan.

Masjid pathok negara juga pernah berfungsi sebagai tempat pelaksanaan peradilan surambi atau peradilan syariah pada masa pemerintahan Kesultanan Yogyakarta.

Menariknya, istilah pathok negara tidak hanya digunakan untuk menyebut masjid.

Istilah tersebut juga menjadi nama jabatan bagi abdi dalem keraton yang memiliki tugas berkaitan dengan hukum adat dan hukum syariat di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Baca Juga: Resep Sagu Keju Renyah dan Lumer di Mulut, Lengkap dengan Tips Anti Gagal

Masjid-Masjid Pathok Negara
Salah satu masjid pathok negara adalah Masjid An-Nur Mlangi yang berdiri sekitar tahun 1758.

Masjid ini didirikan oleh Kyai Nur Iman setelah menerima tanah perdikan dari Sultan Hamengkubuwana I.

Masjid lainnya adalah Masjid Plosokuning yang berada di Minomartani, Ngaglik, Sleman.

Masjid ini didirikan oleh Kyai Mursodo yang merupakan putra Kyai Nur Iman.

Salah satu ciri khas masjid ini adalah adanya kolam yang mengelilingi bangunan masjid untuk membasuh kaki, menyesuaikan kebiasaan masyarakat pada masa itu yang beraktivitas tanpa alas kaki.

Baca Juga: Masjid Al Ikhwan HPK IKN, Masjid Pertama di Kawasan Hunian Pekerja Ibu Kota Nusantara

Di wilayah Banguntapan, Bantul terdapat Masjid Jami Ad-Darajat yang dibangun pada tahun 1774.

Masjid ini pernah mengalami penggusuran pada tahun 1943 karena lokasi tersebut digunakan untuk perluasan pangkalan udara tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, masjid ini kemudian dibangun kembali pada tahun 1960 di lokasi yang sama.

Sementara itu Masjid Pathok Negara Dongkelan yang berada di wilayah Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul dibangun oleh Kyai Sihabudin pada tahun 1775.

Masjid ini pernah dibakar oleh Belanda pada masa Perang Diponegoro karena dianggap sebagai tempat berkumpulnya para pejuang.

Baca Juga: Tips Aman Mudik Lebaran Menggunakan Sepeda Motor

Masjid terakhir adalah Masjid Taqwa Wonokromo yang berada di wilayah Pleret, Bantul.

Masjid ini dikenal sebagai masjid terbesar di antara masjid pathok negara lainnya dan memiliki peran penting dalam kegiatan keagamaan di kawasan bekas Keraton Pleret.

Keberadaan Masjid Pathok Negara tidak hanya menjadi warisan sejarah Kesultanan Yogyakarta, tetapi juga simbol kuat hubungan antara kekuasaan, budaya, dan spiritualitas masyarakat.

Hingga kini, masjid-masjid tersebut tetap berdiri sebagai pengingat bahwa peradaban Yogyakarta dibangun dengan keseimbangan antara nilai keagamaan, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakatnya.***