POJOKSATU.id - Masjid Babul Hasanah merupakan masjid tertua di Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat.

Masjid ini terletak di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir dan menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan masyarakat sejak lama.

Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1947. Sejak awal berdiri, Masjid Babul Hasanah telah menjadi tempat penting bagi umat Islam di daerah tersebut untuk melaksanakan berbagai kegiatan ibadah.

Baca Juga: DAM Gelar Iftar Berdaya Bersama Anak Yatim, Pererat Kebersamaan di Bulan Ramadhan

Masjid ini didirikan oleh seorang tokoh agama yang cukup terkenal pada masa itu, yakni Sy Hasyim Al Hadad. Pada awal berdirinya, masjid tersebut belum dikenal dengan nama Babul Hasanah.

Masyarakat setempat kala itu lebih sering menyebutnya sebagai Masjid Tembok Baru. Nama tersebut muncul karena letak masjid yang berada di dekat jalan baru yang baru saja dibangun pada masa itu.

Bagi masyarakat setempat, kata “tembok” merujuk pada jalan. Oleh karena itu, masjid tersebut dikenal karena berada di dekat jalan baru yang melintas di depan bangunan masjid.

Baca Juga: Guru PAI Non ASN Tanpa NUPTK Berisiko Tidak Masuk Daftar Insentif 2026, Ini Cara Mengurusnya Agar Hak Tunjangan Tidak Terlewat

Jalan yang dahulu hanya berupa tanah kini telah berubah menjadi jalan beraspal dan berstatus sebagai jalan provinsi yang menghubungkan berbagai wilayah di sekitar Simpang Hilir.

Perubahan Nama Menjadi Babul Hasanah
Pada tahun 1958, Sy Hasyim Al Hadad kemudian memberikan nama resmi bagi masjid tersebut, yaitu Masjid Babul Hasanah.

Nama ini diambil dari dialek bahasa Arab yang memiliki arti “Rumah Kebaikan”.

Baca Juga: 7 Tips Mengatur THR agar Tidak Cepat Habis Saat Lebaran, Nomor 2 Penting Banget

Sejak saat itu, nama Babul Hasanah semakin dikenal oleh masyarakat hingga generasi muda di Desa Rantau Panjang kini lebih akrab dengan nama tersebut dibandingkan sebutan lama Masjid Tembok Baru.

Sejak berdirinya, masjid ini menjadi pusat kegiatan ibadah umat Islam di kawasan tersebut. Bahkan pada pelaksanaan Salat Jumat, jumlah jemaah sering kali melebihi kapasitas masjid.

Hal yang sama juga terjadi saat pelaksanaan Salat Idul Fitri maupun Idul Adha.

Baca Juga: SPPG Ditutup pada Maret 2026, Total 1.512 Dihentikan di Pulau Jawa, Ini Alasan dan Rinciannya

Karena keterbatasan ruang, pelaksanaan salat hari raya biasanya dialihkan ke Lapangan Bola Desa Rantau Panjang yang berjarak sekitar satu kilometer dari masjid.

Perkembangan Masjid di Sekitar Wilayah
Pada masa awal berdirinya Masjid Babul Hasanah, masjid ini merupakan satu-satunya masjid yang ada di kawasan tersebut.

Namun seiring berjalannya waktu, beberapa masjid lain mulai dibangun di wilayah sekitar. Salah satunya adalah masjid yang dahulu berada di Pasar Teluk Melano.

Baca Juga: Polisi Tangkap Pasutri Pelaku Pencurian Rumah Kosong di Karawang

Masjid tersebut kemudian dipindahkan ke Jalan Kesematan dan kini dikenal dengan nama Masjid Baiturrahman.

Lokasinya berada tepat di depan Kantor Urusan Agama Kecamatan Simpang Hilir.

Kondisi Bangunan Masjid
Selama perjalanannya, Masjid Babul Hasanah telah mengalami dua kali proses rehabilitasi atau perbaikan fisik bangunan.

Perbaikan pertama dilakukan pada tahun 1958, bertepatan dengan pemberian nama baru bagi masjid tersebut. Sementara rehabilitasi kedua dilakukan sekitar tahun 1996.

Baca Juga: 10 Barang Wajib Dibawa Saat Mudik Lebaran agar Perjalanan Tidak Ribet, Banyak Pemudik Sering Lupa

Bangunan masjid yang sebagian besar menggunakan material kayu kini mulai mengalami pelapukan akibat usia yang sudah cukup tua.

Masjid ini memiliki ukuran sekitar 12 x 12 meter persegi. Meski beberapa bagian bangunan telah mengalami kerusakan, struktur masjid masih tetap berdiri hingga sekarang.

Bagian fondasi masjid masih terlihat kokoh karena menggunakan kayu ulin atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai kayu belian, jenis kayu yang terkenal kuat dan tahan lama.

Sementara itu, beberapa bagian tiang bangunan sudah mulai rusak dimakan usia.

Baca Juga: Kodim 0604 Karawang Gelar Bazar Ramadan TNI, Sembako Murah Diserbu Warga Jelang Lebaran

Dinding lapis dari kayu lokal yang sempat diperbarui menjadi salah satu bagian yang membantu mempertahankan kekuatan bangunan hingga saat ini.

Keberadaan Masjid Babul Hasanah tidak hanya penting sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah perkembangan Islam di Kabupaten Kayong Utara.

Meski telah berdiri sejak puluhan tahun lalu, masjid ini tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Rantau Panjang dan terus menyimpan kisah panjang tentang tradisi keagamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.***