POJOKSATU.id - Masjid Agung Syuhada merupakan masjid besar dan tertua di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Masjid ini menjadi kebanggaan masyarakat Pelaihari karena bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menyimpan jejak sejarah perjuangan rakyat setempat.

Pada masa lalu, di Kampung Pelaihari berdiri sebuah bangunan sederhana di tepi danau kawasan Jalan Pusaka.

Bangunan itu berkonstruksi kayu ulin, berdinding papan, beratap sirap, dan berukuran sekitar 7x7 meter.

Di tempat inilah para pejuang pergerakan kebangsaan sering berkumpul.

Selain untuk ibadah, masjid kecil tersebut menjadi ruang merancang strategi melawan penjajah Belanda.

Baca Juga: Guru Penerima TPG Maret 2026 Diminta Standby Jelang 7 Maret, Pastikan Data Mengajar di Dapodik Benar agar SKTP Tidak Tertunda

Pemerintah kolonial Belanda tidak pernah mencurigai aktivitas perjuangan yang berlangsung di dalamnya.

Meski beberapa kali pecah perang, fungsi masjid sebagai pusat pengaturan serangan ke benteng Belanda tidak pernah terungkap.

Memasuki masa pascakemerdekaan, peran masjid kembali fokus sebagai tempat ibadah.

Namun, seiring pertumbuhan penduduk, kapasitas masjid tidak lagi mencukupi.

Awal Mula Pembangunan Masjid

Berdasarkan catatan lama, pembangunan masjid pertama dimulai pada 1935.

Warga kemudian bergotong royong membangun masjid yang lebih besar.

Baca Juga: Om Zein Ada Momentum Bagus Nih, Berlakunya ETLE Bisa Kurangi Penyakit 'Akut ASN Yang Sudah Mendarah Daging'

Panitia pembangunan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bidang fatwa, terdiri dari sejumlah tokoh agama yang bertugas memberikan pertimbangan hukum syariat.

Kelompok kedua bergerak dalam penggalangan dana dan pengerahan masyarakat untuk berwakaf dan berinfak.

Semangat kebersamaan ini menjadi fondasi kuat berdirinya Masjid Agung Syuhada.

Salah satu kisah menarik terjadi saat mendatangkan empat sokoguru dari Kampung Jilatan.

Tiang-tiang sepanjang 40 meter dengan diameter sekitar 50 sentimeter itu ditarik beramai-ramai oleh warga Pelaihari.

Mereka bahkan dibantu masyarakat desa yang dilalui seperti Desa Jilatan, Tajau Pecah, Tampang, dan Sarang Halang.

Urusan konsumsi ditanggung warga desa yang dilewati, mencerminkan solidaritas yang luar biasa.

Baca Juga: Bank Mandiri Hadirkan DHE Tracker di Kopra untuk Pantau Devisa Ekspor Secara Real-Time

Hingga sekitar tahun 2000, masjid terus berkembang dengan perluasan lahan dan pembangunan tempat wudhu terpisah antara laki-laki dan perempuan.

Renovasi modern sempat direncanakan pada periode kepanitiaan H Abdullah Sani, namun tidak terealisasi karena panitia dibubarkan.

Pengaruh Arsitektur Masjid Demak
Dari sisi arsitektur, Masjid Agung Syuhada dipengaruhi konsep Masjid Agung Demak, terutama pada bentuk atap tiga rangkapnya.

Selain itu, terdapat tiga kubah yang menghiasi bagian mihrab, teras depan, dan atap utama bangunan.

Nama “Syuhada” sendiri diambil dari masa perjuangan, sebagai penghormatan kepada para pejuang yang gugur.

Baca Juga: Juknis Tunjangan Profesi Guru Madrasah 2026 Terbit, Atur Syarat hingga Mekanisme Pembayaran Digital

Kini, masjid tua ini tetap semarak, terutama sejak rutin digelar pengajian oleh KH Ahmad Bakeri. Setiap pengajian berlangsung, ruang induk hingga pelataran masjid dipenuhi jamaah.

Masjid Agung Syuhada bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan simbol keteguhan iman dan semangat perjuangan masyarakat Tanah Laut.

Dari bangunan kayu sederhana hingga menjadi masjid megah yang ramai jamaah, sejarahnya mengajarkan bahwa kebersamaan dan keikhlasan adalah fondasi utama dalam membangun peradaban.***