POJOKSATU.id - Masjid Kiai Muara Ogan atau lebih dikenal sebagai Masjid Ki Marogan adalah salah satu masjid tertua dan paling bersejarah di Palembang, Sumatera Selatan.

Didirikan oleh ulama kharismatik Mgs. H. Abdul Hamid yang dikenal dengan panggilan Ki Marogan pada tahun 1310 H atau 1890 M.

Masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan keagamaan yang strategis di masa Kesultanan Palembang.

Terletak di kawasan Karang Berahi, masjid ini awalnya dibangun dari kayu berukuran 20 x 20 meter dan mampu menampung jamaah dari berbagai kampung di wilayah ulu Palembang.

Fasilitasnya saat itu termasuk lampu stolop, lampu kandil, hingga lampu satron, menunjukkan kemajuan dan kesiapan sarana beribadah yang cukup lengkap pada masanya.

Baca Juga: Bayar Zakat Fitrah Online, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama yang Wajib Diketahui Umat Islam

Yang menarik, arsitektur Masjid Ki Marogan merupakan perpaduan tiga kebudayaan: Cina, Arab, dan India.

Perpaduan ini bukan tanpa alasan, Ki Marogan sendiri memiliki darah Tionghoa dari pihak ibunya.

Kini, setelah renovasi besar-besaran tahun 1989, bangunan masjid diperluas hingga 50 x 40 meter dan ditinggikan plafonnya, menjadikannya lebih megah dan lapang.

Namun, kemegahan itu sempat terancam. Masjid ini telah beberapa kali menghadapi percobaan penggusuran.

Tahun 1911, perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Hindia Belanda (ZSS) memperluas stasiun dan mengambil alih sebagian lahan di sekitar masjid.

Bahkan, bengkel penggergajian kayu milik masjid harus dipindahkan.

Baca Juga: Dukung Ekskul E-Sport di Sekolah, Wapres RI dan Wagub Jabar Kunjungi SMP Santa Yusuf Bandung

Ancaman tidak berhenti di situ. Pada masa pendudukan Jepang, pengerukan Sungai Musi untuk keperluan pengangkutan batu bara menyebabkan tanah di tepi masjid terus mengalami longsor. Pada 1980, jarak mihrab masjid ke bibir sungai hanya tinggal dua meter.

Kondisi genting ini akhirnya direspons pemerintah pusat. Presiden Soeharto saat itu memberikan bantuan sebesar Rp10 juta secara bertahap.

Upaya penanggulangan longsor pun berhasil menyelamatkan masjid ini dari kehancuran.

Kini, Masjid Ki Marogan tetap berdiri kokoh, melanjutkan fungsinya sebagai pusat ibadah dan warisan spiritual masyarakat Palembang.

Dengan sejarah panjang, arsitektur unik, dan perjuangan mempertahankan eksistensinya,

Masjid Ki Marogan bukan hanya tempat salat, tapi juga simbol keteguhan iman dan identitas budaya masyarakat Palembang.***