POJOKSATU.id - Masjid Raya Makassar merupakan salah satu ikon religi paling bersejarah di Kota Makassar.

Masjid yang berlokasi di Jalan Bulusaraung ini dibangun pada tahun 1948 dan selesai pada 1949, menjadikannya sebagai salah satu masjid tertua dan paling berpengaruh di Sulawesi Selatan.

Masjid dua lantai ini dirancang oleh arsitek Mohammad Soebardjo setelah memenangkan sayembara desain yang digelar panitia pembangunan.

Dengan kapasitas hingga 10.000 jamaah, Masjid Raya Makassar menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus simbol kebanggaan umat Islam di kota ini.

Bangunan masjid berdiri di atas lahan seluas 13.912 meter persegi, yang sebelumnya merupakan lapangan sepak bola Exelsior Makassar dan dihibahkan untuk pembangunan masjid.

Baca Juga: Harga Minyak Membara Imbas Konflik Timur Tengah, Brent Sempat Tembus US$80

Pembangunan awal dimulai pada 25 Mei 1949 dengan dana awal sebesar Rp60.000 yang diprakarsai oleh KH Ahmad Bone pada 1947.

Ketua panitia saat itu adalah KH Muchtar Lutfi. Dua tahun kemudian, masjid diresmikan dengan total biaya mencapai Rp1,2 juta pada 1949.

Menariknya, sekitar 80 persen bahan bangunan masjid menggunakan bahan baku lokal.

Masjid ini juga dilengkapi dua menara setinggi 66,66 meter, serta fasilitas pendukung seperti perpustakaan dan kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan.

Dalam perjalanan sejarahnya, Masjid Raya Makassar menjadi lokasi pertama pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) pada 1955.

Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pernah singgah dan melaksanakan salat Jumat di masjid ini pada 1957.

Baca Juga: THR PPPK Paruh Waktu di Kota Bandung Belum Pasti, Farhan: Masih Dikaji dan Tunggu Koordinasi

Mantan Presiden Soeharto juga tercatat berkunjung dan melaksanakan salat Jumat pada 1967.

Kehadiran dua tokoh nasional itu makin mengukuhkan posisi masjid ini sebagai bagian dari sejarah bangsa.

Perubahan besar terjadi pada Februari 1999 ketika Masjid Raya Makassar dirombak total dari bentuk aslinya.

Ide renovasi besar-besaran yang dilontarkan Jusuf Kalla sempat menuai reaksi dan tudingan miring,

bahkan muncul anggapan akan dibangun plaza di atas lokasi masjid lama. Duh, sempat jadi perbincangan hangat kala itu.

Namun, seiring peletakan batu pertama oleh Gubernur HZB Palaguna pada 9 Oktober 1999 dan proses pembangunan yang terus berjalan hingga 2005, pembaruan masjid ini akhirnya membuktikan komitmen untuk menghadirkan bangunan yang lebih representatif tanpa meninggalkan nilai perjuangannya.

Baca Juga: Dilema Keselamatan dan Stabilitas Industri: Praktisi Soroti Dampak Penundaan Umrah

Kini, Masjid Raya Makassar tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol perjalanan sejarah, persatuan, dan dinamika umat Islam di Sulawesi Selatan.

Dari lapangan sepak bola hingga menjadi pusat syiar Islam, masjid ini menyimpan kisah panjang tentang tekad, perdebatan, dan pembuktian.

Di balik megahnya bangunan dan tingginya menara, ada cerita tentang perjuangan yang terus hidup dan menginspirasi generasi demi generasi.***