POJOKSATU.id - Masjid Cut Meutia merupakan salah satu masjid bersejarah yang terletak di Jalan Cut Meutia Nomor 1, Menteng, Jakarta Pusat.
Bangunan ini menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Indonesia, dari masa kolonial Belanda hingga era kemerdekaan.
Gedung yang kini menjadi tempat ibadah umat Islam tersebut awalnya bukanlah masjid.
Bangunan ini merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda yang dulunya adalah kantor biro arsitektur dan pengembang bernama N.V. De Bouwploeg, yang selesai dibangun pada tahun 1912.
Seiring waktu, gedung ini mengalami berbagai perubahan fungsi.
Pada masa kolonial, bangunan tersebut pernah digunakan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda, hingga kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang saat masa pendudukan Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini kembali beralih fungsi.
Gedung tersebut pernah menjadi kantor Wali Kota Jakarta Pusat, Kantor Perusahaan Daerah Air Minum, Kantor Pos, serta kantor Dinas Perumahan Jakarta.
Baca Juga: Safe House Kasi Intelijen Bea Cukai Berisi Rp 5,19 M Hasil Korupsi, Diduga Masih Banyak yang Lain
Bahkan, gedung ini juga sempat digunakan sebagai kantor Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang saat itu dipimpin oleh Abdul Haris Nasution.
Setelah kantor MPRS dipindahkan ke Senayan, Abdul Haris Nasution tidak menginginkan gedung bersejarah tersebut kembali difungsikan sebagai kantor.
Ia mengusulkan agar bangunan dimanfaatkan sebagai masjid bagi masyarakat sekitar, mengingat kawasan Kebun Sirih saat itu masih minim tempat ibadah.
Namun, proses perubahan fungsi gedung menjadi masjid tidak berlangsung instan.
Baca Juga: Mantu Kurang Ajar! Mertua Lagi Enak-enak Tidur Malah GITUIN Pengakuan Pelaku Kok Bikin Emosi
Pada tahun 1984, terlebih dahulu dibentuk remaja Masjid Cut Meutia untuk mempersiapkan pengelolaan dan memakmurkan kegiatan keagamaan di sana.
Baru tiga tahun kemudian, melalui Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 5184/1987 tertanggal 18 Agustus 1987, bangunan tersebut resmi dialihfungsikan menjadi tempat ibadah umat Islam dengan nama Masjid Cut Meutia.
Saat itu, jabatan Gubernur DKI Jakarta dipegang oleh R Soeprapto yang menjabat pada periode 1982–1987.
Sosok Abdul Haris Nasution sendiri dikenal sebagai Jenderal Besar TNI dan Pahlawan Nasional, penggagas strategi Perang Gerilya serta mantan pemimpin Divisi Siliwangi.
Perannya dalam mengusulkan perubahan fungsi gedung kolonial tersebut menjadi masjid menjadi bagian penting dalam sejarah berdirinya Masjid Cut Meutia.
Kini, Masjid Cut Meutia bukan hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga simbol transformasi sejarah.
Dari bangunan kolonial yang sarat jejak penjajahan, ia beralih menjadi ruang sujud dan pusat kegiatan umat.
Di balik dinding tuanya, tersimpan kisah tentang perubahan, perjuangan, dan harapan, bahwa setiap ruang, betapapun kelam masa lalunya, selalu punya kesempatan untuk menjadi tempat yang menghadirkan cahaya.***

