POJOKSATU.id - Pagi Bandung pada awal abad ke-19 belum seramai sekarang. Jalannya kini dikenal dengan nama Jalan Asia Afrika.
Alun-alun hanyalah tanah lapang berumput tempat warga berkumpul, berdagang.
Di sisi barat lapangan tersebut berdiri sebuah bangunan ibadah sederhana yang kini menjelma penanda sejarah kota: Masjid Raya Bandung.
Masjid ini pertama kali didirikan pada 1812, bersamaan dengan pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung dari Krapyak ke kawasan yang kini menjadi pusat kota.
Tata ruang kolonial menempatkan alun-alun sebagai pusat simbolik: pendopo bupati di satu sisi, pasar di sisi lain, dan masjid sebagai penegas dimensi spiritual sekaligus legitimasi sosial.
Bangunan awalnya jauh dari kesan megah. Struktur kayu, dinding anyaman bambu, atap rumbia bertumpuk, serta lantai panggung menjadi ciri khasnya.
Di halaman terdapat kolam besar untuk wudhu sekaligus sumber air warga.
Ketika kebakaran melanda kawasan alun alun pada 1825, kolam itu menjadi penyelamat, airnya dipakai memadamkan api.
Renovasi 1826 menandai babak baru. Bambu diganti kayu yang lebih kuat.
Seiring pembangunan jalur Anyer–Panarukan atau Groote Postweg yang kemudian menjadi Jalan Asia Afrika, wajah Bandung berubah cepat.
Pada 1850, atas perintah Bupati R.A. Wiranatakusumah IV, masjid diperluas. Genteng tanah liat menggantikan rumbia, dinding bata menggantikan bambu.
Ciri arsitektur khas muncul lewat atap limas bertumpuk tiga atau bale nyungcung.
Atap itu menjadi identitas lokal Sunda di tengah tata kota kolonial.
Tahun 1875, pondasi diperkuat batu dan kompleks dipagari tembok bermotif sisik ikan, simbol kesinambungan kekuasaan dan spiritualitas.
Memasuki abad ke-20, penyesuaian kembali dilakukan. Serambi ditambah pada 1900, menampung jamaah yang terus bertambah.
Pada 1930, arsitek Henri Maclaine Pont merombak fasad depan dan menambah menara kembar, mempertegas kesan monumental.
Namun perubahan paling drastis terjadi menjelang Konferensi Asia Afrika.
Atas gagasan Soekarno, atap nyungcung diganti kubah bergaya Timur Tengah berbentuk bawang.
Ruang dalam dijadikan satu aula besar. Masjid ini kemudian digunakan para delegasi konferensi yang berlangsung di Gedung Merdeka, tak jauh dari Hotel Savoy Homann.
Sejumlah pemimpin dunia Asia-Afrika tercatat singgah dan beribadah di sana.
Kubah bawang itu tak bertahan lama. Kerusakan akibat angin memicu renovasi ulang pada 1967 dan 1970.
Pada 1973, renovasi besar kembali dilakukan: ruang diperluas bertingkat, basement difungsikan untuk wudhu, dan mezanin ditambahkan.
Awal 2000-an menjadi tonggak penting. Renovasi total dimulai 2001 bersamaan dengan penataan ulang Alun-alun Bandung.
Proyek rampung 2003 dan sejak itu namanya resmi menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.
Dua menara setinggi 81 meter berdiri mengapit kubah utama berdiameter 30 meter.
Di puncaknya, elemen menyerupai nyungcung lama dipasang sebagai penghormatan sejarah.
Kini masjid berdiri di atas lahan lebih dari 23 ribu meter persegi, mampu menampung sekitar 13 ribu jamaah.
Ia tak hanya ruang ibadah, melainkan juga ruang sosial dan wisata religi yang menyatu dengan alun-alun.
Di tengah perubahan zaman, Masjid Raya Bandung tetap berdiri sebagai saksi lebih dari dua abad perjalanan kota.
Dari bale nyungcung, kubah bawang, hingga menara modern, ia seakan mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar bangunan, melainkan ingatan kolektif yang tak boleh hilang begitu saja.***

