POJOKSATU.id - Masjid Tuo Kayu Jao tercatat sebagai masjid tertua di Sumatera Barat yang masih berdiri kokoh hingga kini.
Berdiri sejak abad ke-16, masjid ini menjadi saksi penyebaran Islam di Ranah Minang sebelum masa Perang Padri.
Masjid bersejarah ini terletak di Jorong Kayu Jao, Kenagarian Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Baca Juga: Rekrutmen BPJS Kesehatan 2026 Dibuka! Dibutuhkan Petugas PANDAWA dan SENADA, Siap Kerja Shift?
Posisinya berada di ketinggian sekitar 1.152 meter di atas permukaan laut, dikelilingi perbukitan dan lembah yang asri.
Lokasi Tersembunyi di Balik Perbukitan
Dari jalan raya Padang–Alahan Panjang, keberadaan masjid ini hanya ditandai gapura kecil di tikungan tajam Nagari Batang Barus, persis di seberang Masjid Raya Nurul Ihsan Kayu Jao.
Untuk mencapainya, pengunjung harus melewati tanjakan curam sekitar 300 meter.
Baca Juga: Tinggal Beberapa Hari! Ini Lafal Niat Qadha Puasa Ramadhan Jelang 1447 H
Meski tersembunyi, suasana sekitar masjid begitu menenangkan.
Di halaman timur terdapat bedug yang dilindungi tiang kayu beratap ijuk, serta aliran sungai kecil dengan air jernih yang juga dimanfaatkan jamaah untuk berwudhu.
Udara pegunungan yang sejuk membuat siapa pun betah berlama-lama.
Baca Juga: Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh, Bolehkah Cukup Sekali? Ini Penjelasan Mazhab Maliki
Arsitektur Kayu dan Atap Ijuk Tiga Tingkat
Secara denah, bangunan masjid berbentuk persegi panjang. Dinding, plafon, lantai, dan hampir seluruh tiang terbuat dari kayu pilihan.
Atapnya bertumpang tiga menggunakan ijuk setebal sekitar 15 sentimeter dengan permukaan cekung agar air hujan cepat mengalir.
Antara tiap tingkat atap terdapat celah pencahayaan alami, sehingga bagian dalam tetap terang tanpa banyak bukaan tambahan.
Di sela pembatas atap terdapat ukiran terawang bermotif geometris khas Minangkabau.
Jumlah tiang keseluruhan mencapai 30 buah. Tiang utama berada di tengah bangunan setinggi sekitar 15 meter yang disebut Tonggak Macu, yakni tiang terbesar dibanding lainnya.
Sebagian sumber juga menyebut 27 tiang sebagai simbol enam suku di sekitar masjid, lengkap dengan unsur pemerintahan adat serta unsur agama seperti khatib, imam, dan bilal.
Baca Juga: Perpaduan Arsitektur Budaya di Masjid Agung Banten, Jejak Sejarah yang Tetap Berdiri Kokoh
Tiang-tiang tersebut hanya diletakkan di atas batu sandi sebagai pondasi, tanpa ditanam ke dalam tanah.
Jendela berjumlah 13 buah dengan lebar sekitar 90 sentimeter, yang dimaknai sebagai simbol 13 rukun shalat.
Mihrab, Mimbar, dan Ornamen Filosofis
Mihrab berukuran sekitar 2,10 x 3,50 meter ditempatkan di bagian depan bangunan.
Baca Juga: 10 Film Drama Indonesia Penuh Makna, Siap Bikin Hati Bergetar dan Banjir Air Mata
Di dalamnya terdapat mimbar kayu dengan ukiran motif sulur dan tumbuh-tumbuhan.
Ornamen dekoratif juga terlihat pada dinding atap antara tingkat pertama dan kedua, serta di dinding mihrab.
Ragam hias Minangkabau yang menghiasi masjid mencerminkan filosofi adat, “alam takambang jadi guru, cancang taserak jadi ukia,” yang menegaskan orientasi kehidupan pada alam sebagai sumber pembelajaran.
Baca Juga: Bukan Dokter Biasa! Ini Profil dan Rekam dokter Piprim yang Dipecat Menkes dan Bikin Publik Heboh
Jejak Angku Masyhur dan Angku Labai
Masjid ini ditetapkan sebagai cagar budaya. Berdasarkan prasasti informasi, masjid dibangun oleh Angku Masaur atau Angku Masyhur bersama Angku Labai.
Angku Masyhur dikenal sebagai imam dengan suara merdu dan bacaan fasih. Ia wafat saat menjadi imam shalat Jumat dan dimakamkan di mihrab masjid.
Sementara Angku Labai, bilal masjid yang juga bersuara khas, dimakamkan di Jirek atau langgar tempat ia biasa shalat di luar masjid.
Baca Juga: Lowongan BPJS 2026 untuk S1 IT, Kontrak Full Time di Kantor Pusat, Daftar Sebelum 28 Februari!
Sejumlah sumber menyebut masjid ini berdiri pada 1567, sementara sumber lain menyebut 1599.
Namun yang pasti, para penulis dalam buku Surau Kito menyatakan usia masjid telah melampaui 400 tahun.
Masjid Tuo Kayu Jao bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol kejayaan Islam Minangkabau abad ke-16 yang masih hidup hingga hari ini.
Baca Juga: Rekomendasi Pasar Ramadan Terpopuler di Indonesia, Surga War Takjil Saat Ngabuburit
Di tengah perubahan zaman, masjid ini mengajarkan bahwa tradisi, iman, dan kearifan lokal dapat berjalan beriringan menjaga warisan peradaban.***

