POJOKSATU.id — Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 tak lepas dari peran tokoh-tokoh penting yang bekerja di balik layar.

Salah satunya adalah Mohamad Ibnu Sayuti atau lebih dikenal sebagai Sayuti Melik.

Namanya tercatat abadi sebagai pengetik teks proklamasi, namun kiprahnya jauh melampaui sekadar mengetik.

Mengutip buku Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia dari Era Klasik Sampai Kontemporer karya Adi Sudirman, Sayuti Melik adalah seorang Perintis Kemerdekaan Indonesia dan asisten pribadi Ir. Soekarno.

Ia juga dikenal sebagai jurnalis, pernah menjadi anggota DPR RI periode 1971–1982, serta memiliki sejarah hidup yang penuh dinamika dari masa kolonial hingga Orde Baru.

Baca Juga: 5 PERTEMPURAN HEROIK Usai Indonesia Merdeka, Dari Sumatera Hingga Bali Berkobar, Paling Dikenang dalam Sejarah

Ketertarikan pada Perjuangan

Sayuti Melik lahir di Yogyakarta, 25 November 1908.

Ayahnya, Partoprawito alias Abdul Mu’in, adalah seorang lurah di Desa Kadilobo, Sleman, yang dikenal berani dan kritis terhadap kebijakan pemerintah Hindia Belanda.

Sejak remaja, Sayuti sudah tertarik pada isu kebangsaan. Ia rajin membaca koran, buku, dan mengikuti diskusi yang dihadiri tokoh-tokoh nasional.

Salah satu panutannya adalah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Ia juga banyak belajar dari Haji Mohammad Misbach, seorang tokoh muslim revolusioner.

Pahit-Manis Penjara dan Pengasingan

Perjuangan Sayuti Melik dimulai sejak usia muda. Tahun 1924, ia ditangkap pemerintah kolonial dan dipenjara di Ambarawa karena dituduh menghasut rakyat.

Dua tahun kemudian, ia dituding terlibat gerakan PKI 1926 dan diasingkan ke Boven Digul, Papua.

Meski bebas pada 1933, kehidupannya tetap penuh tekanan.

Tahun 1936, ia ditangkap pemerintah kolonial Inggris di Singapura.

Baca Juga: 5 PERTEMPURAN HEROIK Usai Indonesia Merdeka, Dari Sumatera Hingga Bali Berkobar, Paling Dikenang dalam Sejarah

Setelah bebas, ia kembali ke Indonesia, bertemu dengan jurnalis perempuan S.K. Trimurti, lalu menikah pada 1938.

Pasangan ini menerbitkan surat kabar Pesat di Semarang hingga dibredel Jepang pada 1942, yang juga memenjarakan keduanya.

Peran Saat Proklamasi

Sayuti Melik tergabung dalam kelompok pemuda Menteng 31 yang mendorong agar proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia segera dilakukan.

Pada 16 Agustus 1945, ia bersama pemuda lain “mengamankan” Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk mendesak proklamasi tanpa menunggu janji Jepang.

Malam harinya, mereka kembali ke Jakarta.

Di kediaman Laksamana Maeda, Sukarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo merumuskan teks proklamasi.

Di situlah Sayuti Melik menjadi saksi langsung, lalu mengetik teks proklamasi berdasarkan tulisan tangan Sukarno.

Ia juga mengusulkan agar teks ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta atas nama seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga: Bung Karno dan Pemikiran Islam, Dari Ende Menuju Gagasan Kemajuan

Usulan ini diterima, menegaskan legitimasi kemerdekaan bangsa.

Kiprah Politik dan Pandangan Kritis

Pasca kemerdekaan, Sayuti Melik masuk PPKI dan KNIP, cikal-bakal parlemen RI.

Ia pernah ditangkap pada Peristiwa 3 Juli 1946, namun dibebaskan karena tidak terbukti bersalah.

Meski dekat dengan Sukarno, Sayuti Melik menentang konsep Nasakom sejak 1956, meminta kata “komunisme” diganti menjadi “sosialisme”.

Ia juga mengkritik Demokrasi Terpimpin yang memberi kekuasaan besar kepada presiden.

Baca Juga: Doa Bung Karno Usai Proklamasi, Jejak Spiritual Sang Proklamator, Mendalami Islam di Balik Pintu Penjara

Setelah runtuhnya Orde Lama, Sayuti Melik justru diberi tempat di era Soeharto. Ia duduk sebagai anggota DPR/MPR dari Fraksi Golkar hasil Pemilu 1971 dan 1977.

Sayuti Melik wafat di Jakarta pada 27 Februari 1989 di usia 80 tahun.

Presiden Soeharto datang melayat, memberi penghormatan terakhir kepada sang pengetik proklamasi yang telah mengabdikan hidupnya bagi bangsa.

Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami: