POJOKSATU.ID - Di balik hiruk pikuk Banda Aceh yang kini modern, sebuah monumen tua di kawasan Peulanggahan berdiri yang sejarahnya tak banyak diketahui orang.
Struktur setinggi pinggang orang dewasa itu tampak biasa saja.
Namun, menurut sejarawan dan arkeolog, tugu kecil ini adalah bukti fisik tertua invasi Belanda ke Aceh pada tahun 1873 —saksi awal dari perang kolonial yang paling panjang dan berdarah di Nusantara.
Baca Juga: Bendera One Piece dan Simbol Perlawanan, Ketika Fiksi Menjadi Media Kritik Sosial
“Ini bisa jadi salah satu artefak tertua dari Perang Aceh, karena lokasinya sesuai dengan titik pendaratan pertama tentara Belanda,” ujar Deddy Satria, arkeolog dari Universitas Syiah Kuala.
Namun ironisnya, monumen yang kini berdiri di halaman rumah warga itu tak dilestarikan secara layak, bahkan belum ada upaya serius dari pemerintah untuk memugar atau meneliti lebih jauh.
Perang Aceh dimulai pada 10 April 1873, ketika sekitar 3.000 pasukan kolonial Belanda mendarat di pantai Ceureumen.
Baca Juga: Unesa Terapkan Pengawasan 24 Jam untuk Bentuk Karakter Siswa Sekolah Rakyat
Mereka bertujuan menguasai Kesultanan Aceh yang strategis dan kaya.
Namun perlawanan rakyat Aceh sangat kuat. Dalam serangan pertama itu, Jenderal Johan Kohler —pemimpin ekspedisi— tewas di tangan pejuang Aceh.
Sejarawan menyebutnya sebagai awal dari konflik kolonial paling brutal dalam sejarah Hindia Belanda.
Perang berlangsung lebih dari tiga dekade, merenggut ribuan nyawa, dan membentuk narasi panjang tentang perlawanan dan kolonialisme.
Monumen yang Diabaikan, Tapi Bernilai Tinggi
Monumen di Peulanggahan berdiri di pekarangan rumah Jamil, warga yang telah menjaga keberadaan situs ini sejak lama.
Ia mengaku tak pernah membongkarnya karena sadar akan nilai sejarahnya.
“Dulu keluarga saya pernah ditawari uang oleh kolektor, tapi kami menolak. Ini sejarah bangsa, bukan untuk dijual,” kata Jamil dikutip dari BBC Indonesia.
Meski telah didaftarkan ulang sebagai cagar budaya pada 2021, monumen ini tetap terbengkalai.
Baca Juga: Transaksi Judi Online Turun 70 Persen, PPATK Aktifkan Lagi 28 Juta Rekening yang Sempat Diblokir
Tak ada papan informasi, tak ada pagar pelindung, apalagi perawatan rutin dari instansi berwenang.
Kuburan Peucut: Kontras dengan Monumen Peulanggahan
Hanya beberapa kilometer dari Peulanggahan, terdapat Kuburan Belanda Kerkhoff Peucut, yang terawat rapi dan menjadi lokasi wisata sejarah.
Di sinilah sekitar 2.000 serdadu Belanda dimakamkan, sebagian besar korban Perang Aceh dari tahun 1873–1904.
Perbedaan mencolok antara pemeliharaan makam penjajah dan terbengkalainya monumen perjuangan lokal menjadi ironi sejarah.
“Harusnya negara hadir untuk merawat situs perjuangan rakyat kita sendiri,” ujar Deddy Satria.
Tanggung Jawab Indonesia atau Belanda?
Penulis asal Belanda, Anton Stolwijk, yang menulis buku tentang Perang Aceh, menyebut bahwa pemerintah Belanda juga punya tanggung jawab moral untuk merawat situs-situs kolonial di Indonesia, termasuk yang berkaitan dengan kekerasan masa lalu.
“Kita tak bisa bicara rekonsiliasi sejarah tanpa melibatkan pelestarian situs-situs semacam ini,” Anton Stolwijk.
Sayangnya, baik dari pihak Indonesia maupun Belanda, belum ada program konkrit untuk menyelamatkan jejak-jejak sejarah Perang Aceh yang kini mulai lenyap satu per satu.
Jika tugu Peulanggahan hilang karena kelalaian, maka bangsa ini akan kehilangan salah satu jejak paling awal dari perlawanan rakyat terhadap kolonialisme.
Padahal, artefak seperti ini bisa menjadi pintu masuk untuk memahami kompleksitas sejarah Aceh dan pentingnya mengingat —bukan melupakan— masa lalu.
Sebagaimana ditegaskan oleh Ambo Asse Ajis dari Balai Arkeologi Sumatra, dalam kutipan pernyataannya sebagai berikut:
“Setiap benda cagar budaya adalah pengingat sejarah. Jika kita abai, maka kita ikut menghapus memori bangsa sendiri.”
Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat, mudah dan tanpa iklan bisa download aplikasi Pojoksatu.id untuk Android dan iOS melalui link di bawah ini:
Anda juga bisa bergabung dalam saluran Whatsapp Pojoksatu.id atau Fanpage Edugov Pojoksatu.id melalui link di bawah ini:
Demikian informasi tentang kondisi terkini monumen tua di kawasan Peulanggahan, Banda Aceh yang tak terawat.***
