POJOKSATU.id — Abdullah Ibnu Mubarak, seorang ulama besar pada masanya, adalah sosok yang penuh ilmu namun memilih menjauh dari ketenaran.
Beliau, yang juga dikenal dengan panggilan Abu Abdurrahman, hidup dalam kesederhanaan meskipun memiliki kedudukan tinggi di kalangan umat Islam.
Rumahnya di Marwa begitu luas, dengan halaman mencapai 50 x 50 hasta.
Setiap hari, para pencari ilmu berbondong-bondong datang, duduk dalam lingkaran kajian hingga Ibnu Mubarak keluar dari kamarnya untuk menyampaikan hikmah dan pelajaran.
Namun, keadaan berubah ketika beliau memutuskan untuk pindah ke Kufah.
Baca Juga: KIsah Luqman dan Putranya, Bergantian Naik Keledai Menuju Pasar, Begini Hikmah yang Bisa Dipetik
Di sana, beliau menetap di rumah kecil, lebih sering menghabiskan waktu sendiri, hanya keluar untuk shalat.
Ketika seseorang bertanya kepadanya, "Wahai Abu Abdurrahman, tidakkah engkau merasa asing di sini dibandingkan dengan kehidupanmu di Marwa?" beliau menjawab,
"Aku menghindari Marwa untuk menjauhi sesuatu yang kalian sukai, dan aku berada di sini karena mencintai sesuatu yang kalian benci.
Dulu di Marwa, setiap permasalahan mereka adukan kepadaku. Sedangkan di sini, aku bebas dari semua itu."
Ibnu Mubarak mengajarkan bahwa zuhud sejati bukanlah mengaku-aku menjauhi ketenaran, melainkan benar-benar menolaknya tanpa mengharapkan sanjungan.
“Jadilah orang yang tak dikenal, yang membenci ketenaran, dan jangan tampakkan bahwa dirimu tidak suka terkenal untuk mengangkat martabat diri. Sebab, jika engkau mengaku zuhud, itu artinya kezuhudanmu telah runtuh,” katanya.
Suatu hari, Ibnu Mubarak datang ke tempat mata air, tempat orang-orang biasa minum.
Baca Juga: Kisah Ikrimah Al Qurasyi, Mantan Budak yang Menjadi Ahli Tafsir Terkemuka
Ia berbaur di tengah keramaian, terdorong dan berdesak-desakan tanpa seorang pun mengenalinya.
Ketika akhirnya ia keluar dari kerumunan, beliau berkata, “Inilah kehidupan yang sebenarnya,” merujuk pada hidup tanpa ketenaran dan penghormatan duniawi.
Ketulusan Ibnu Mubarak dalam berjuang bagi umat diakui banyak orang. Abdurrahman bin Mahdi berkata, "Kedua mataku tidak pernah melihat orang yang lebih tulus menasihati umat Islam selain Ibnu Mubarak."
Ketenarannya memang tak terhindarkan.
Suatu ketika, ketika Harun Ar-Rasyid tiba di Riqqah, masyarakat bergegas menyambut Ibnu Mubarak hingga debu beterbangan dan sandal-sandal putus.
Seorang budak perempuan milik Harun Ar-Rasyid yang menyaksikan kejadian itu bertanya, "Ada apa ini?" Ketika diberitahu bahwa yang datang adalah Abdullah bin Mubarak, ia berkata,
"Demi Allah, inilah raja yang sejati, bukan Harun, yang hanya bisa mengumpulkan manusia dengan polisi dan tentara."
Namun, meskipun begitu terkenal, ia tetap rendah hati.
Seorang sahabatnya, Qasim bin Muhammad, pernah bertanya dalam hati mengapa Ibnu Mubarak begitu dihormati, padahal mereka sama-sama shalat, puasa, berjihad, dan berhaji.
Hingga suatu malam dalam perjalanan ke Syam, lampu di tempat mereka makan malam tiba-tiba padam.
Ketika penerangan datang kembali, Qasim melihat janggut Ibnu Mubarak telah basah dengan air mata.
Saat itulah ia memahami bahwa yang membuat Ibnu Mubarak begitu istimewa adalah ketakwaannya yang mendalam.
Ketika seseorang bertanya apakah beliau tidak merasa kesepian karena lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, Ibnu Mubarak menjawab,
"Bagaimana mungkin aku kesepian, sementara aku bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?" Maksudnya, ia selalu ditemani hadits-hadits Rasulullah dalam kesehariannya.
Kisah ini hanya sekelumit dari perjalanan hidup Abdullah Ibnu Mubarak. Keteladanannya mengajarkan bahwa sejatinya kemuliaan bukan pada ketenaran, tetapi pada keikhlasan dan kebersihan hati dalam beribadah kepada Allah.
Semoga kita dapat meneladani beliau. Aamiin.***

