POJOKSATU.id — Di bawah langit Madinah yang cerah, di dalam Masjid Nabawi yang penuh dengan umat Islam yang beribadah, berdiri sebuah pohon kurma yang tampak kokoh.
Namun, siapa sangka, pohon ini menyimpan sebuah kisah yang begitu menyentuh hati, kisah tentang cintanya kepada Nabi Muhammad saw.
Suatu hari Jumat, Rasulullah saw sedang menyampaikan khutbah di dalam masjid.
Suara beliau yang lembut dan penuh hikmah menggema di seantero ruangan. Tiba-tiba, terdengar suara tangisan dari arah belakang masjid.
Tangisan itu begitu pilu, mengundang perhatian para jamaah yang hadir. Saat mereka mencari sumber suara, ternyata tangisan itu berasal dari sebatang pohon kurma yang berdiri dekat dengan mimbar.
Menyaksikan kejadian itu, Nabi Muhammad saw segera menghentikan khutbahnya dan berjalan menuju pohon kurma yang menangis tersebut.
Dengan penuh kasih sayang, beliau mengusap batangnya dan bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai pohon kurma?"
Seakan mendapat anugerah untuk berbicara, pohon itu menjawab dengan suara lirih, "Ya Rasulullah, aku menangis karena aku akan berpisah denganmu. Aku rindu mendengar suara merdumu, nasihatmu yang bijak, dan dzikir yang selalu kau ucapkan di sisiku."
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Fathul Bari Jilid 4, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, halaman 374. Hadits tersebut berbunyi:
Artinya:
Bahwa seorang wanita Anshar berkata kepada Rasulullah saw, "Wahai Rasulullah, tidakkah aku buatkan untukmu sesuatu untuk engkau duduki? Karena aku memiliki seorang anak laki-laki yang tukang kayu." Beliau bersabda, "Jika engkau mau.
" Maka wanita tersebut membuatkan mimbar untuk Nabi Muhammad. Maka ketika hari Jum'at, Nabi saw duduk di mimbar yang telah dibuat, lalu pohon kurma yang di depannya saat beliau berkhutbah berteriak hingga hampir pecah.
Maka Rasulullah turun hingga mengambilnya, lalu memeluknya. Maka pohon tersebut mulai meratap seperti rengekan bayi yang sedang didiamkan hingga tenang. Beliau bersabda, "Pohon tersebut menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar."
Sebelumnya, Rasulullah saw selalu bersandar pada batang pohon kurma itu ketika menyampaikan khutbah Jumat.
Selama itu pula, pohon tersebut menikmati lantunan kata-kata penuh hikmah dari Nabi.
Namun, setelah seorang wanita Anshar dan anaknya yang pandai membuat kayu menghadiahkan sebuah mimbar kepada Rasulullah, beliau mulai berkhutbah dari atas mimbar tersebut. Pohon kurma itu merasa kehilangan dan kesepian.
Kesedihan pohon kurma ini menyentuh hati Rasulullah saw.
Beliau turun dari mimbar dan dengan penuh kasih sayang memeluk pohon tersebut hingga tangisannya mereda.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa bahkan makhluk yang tampaknya tidak memiliki perasaan pun bisa merasakan kehilangan dan kasih sayang.
Kisah ini mengajarkan kepada kita tentang cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Rasulullah saw.
Bahkan pohon kurma pun merasakan keberkahan berada di dekat Nabi.
Selain itu, kisah ini juga memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga dan mencintai alam.
Tumbuhan dan makhluk hidup lainnya juga memiliki kepekaan terhadap kasih sayang dan perhatian manusia.
Oleh karena itu, kita harus selalu berbuat baik dan menjaga lingkungan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah. ***

