POJOKSATU.id — Berbagai catatan masih harus ditelaah usai seminar bertajuk Bujangga Manik: Kota Bogor dalam Visi Pangeran Sunda Abad ke-15 digelar, pada Sabtu (18/1/2025) di Gedung Eks Asisten Residen (Bakorwil) Kota Bogor.

Acara seminar itu dihadiri peserta dari berbagai latar belakang ini masih jadi perbincangan di kalangan penggiat budaya.

Hamdan Kamal Nugraha dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bogor mengungkapkan kajian terkait tema tersebut masih harus digali dan didalami lebih jauh.

Salah satu yang masih menjadi bahan kajian adalah perihal relevansinya dengan kehidupan masyarakat Bogor di masa kini.

Warisan Budaya Enam Abad Lalu

"Setelah enam abad berlalu, pertanyaan besar muncul: sejauh mana warisan budaya dan pandangan Bujangga Manik masih memiliki relevansi dalam kehidupan masyarakat Bogor modern?," ungkap Hamdan kepada pojoksatu.id, Senin (3/2/2025).

Baca Juga: Raja Galuh Pakuan Puji Dedikasi Tine Yowargana dalam Pelestarian Budaya Sunda

Seminar tersebut diikuti mulai dari pelajar, mahasiswa, akademisi, hingga pemerhati budaya dan pelaku seni.

Selain masyarakat Bogor, komunitas dari Bandung, Karawang, dan Jabodetabek turut berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Kegiatan seminar diawali dengan penampilan Paduan Suara SMPN 5 Kota Bogor, disusul dengan tarian Sasangkala oleh Rara dari SMK Mardiyuana serta pertunjukan seni Karinding oleh Kang Bojay.

Sambutan turut diberikan oleh Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpora Kota Bogor, Dian Herdiawan, dan Kepala Balai Pelestari Kebudayaan (BPK) IX, Retno Raswati.

Seminar merupakan hasil kolaborasi antara Niskala Institute dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bogor dengan dukungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor, Komunitas Telapak dan SMA Kosgoro.

Sejumlah penggiat budaya dan tokoh masyarakat seperti Ki Sani, Ki Arman, Kang Jey, Sherli, Mama Rara, Ferry Chery, Lutfi, dan Kang Jo ikut hadir dengan berbagai pandangannya.

Baca Juga: Bey Machmudin Apresiasi Maestro Tari Sunda Indrawati Lukman, Tetap Berkarya di Usia 80 Tahun

Perkenalkan Bujangga Manik

Seminar ini dinilai mampu menghadirkan diskusi yang mendalam mengenai sosok Bujangga Manik dan perannya dalam sejarah klasik Bogor.

Hamdan bertindak sebagai moderator, sementara narasumber utama, Muhamad Alnoz, S.Hum., M.A., dari Niskala Institute sekaligus anggota Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia, memaparkan berbagai aspek penting mengenai Bujangga Manik.

Baca Juga: SUSAH CARI GAS Elpiji 3 Kg di Warung? Yuk Bantu Emak-emak, Ini CARA PEMBELIAN dan Cek Lokasi PANGKALAN TERDEKAT

Seminar ini bertujuan untuk memperkenalkan Bujangga Manik sebagai figur historis yang memiliki peran signifikan dalam perkembangan Kota Bogor sejak abad ke-7 hingga ke-16 M.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk memahami bahwa Bogor bukan hanya kota modern, tetapi juga memiliki akar budaya yang dalam.

Kesadaran akan pentingnya pelestarian cagar budaya pun menjadi salah satu fokus utama seminar ini.

"Selain itu, seminar ini berfungsi sebagai ajang sosialisasi mengenai naskah Bujangga Manik yang masih kurang dikenal oleh masyarakat Bogor," tutur Hamdan.

Pulangkan Naskah Bujangga Manik

Menurutnya, naskah ini memiliki nilai sejarah yang tinggi dan merupakan bagian dari warisan budaya yang patut dilestarikan.

Melalui diskusi ilmiah ini, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya kajian sejarah dalam memperkaya wawasan akademik di Kota Bogor.

Lebih lanjut, seminar ini juga mendorong generasi muda untuk mengadaptasi kisah Bujangga Manik ke dalam produk-produk kreatif, seperti seni, sastra, dan karya budaya lainnya.

Baca Juga: Hensat Analisa Mega dan Prabowo Segera Bertemu, Didahului Rekonsiliasi Ahok dan Anies

"Dengan begitu, warisan sejarah ini tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi juga dapat dihidupkan kembali dalam berbagai bentuk ekspresi budaya," tambah Hamdan.

Salah satu topik yang turut dibahas dalam seminar ini adalah pentingnya menjadikan naskah Bujangga Manik sebagai bagian dari ingatan kolektif nasional.

Sebagai salah satu naskah kuno yang memiliki nilai historis tinggi, upaya untuk memperkuat keberadaannya sebagai identitas budaya Indonesia menjadi sangat penting.

Tak hanya itu, seminar ini juga membahas inisiatif untuk memulangkan naskah Bujangga Manik ke Indonesia.

Saat ini, naskah tersebut masih tersimpan di Inggris, sehingga repatriasi menjadi salah satu langkah yang perlu diperjuangkan demi mengembalikan warisan budaya ini ke tanah air. ***