POJOKSATU.id, JAKARTA-- Pada masa penjajahan Belanda, suku Dayak yang berada di Kalimantan, sangat ditakuti Belanda.

Kala itu, setiap suku dan etnis di berbagai daerah di Indonesia memiliki perjuangannya masing-masing melawan tentara Belanda.

Diketahui, Belanda sempat mencoba menyerang suku dari Kalimantan ini. Alih-alih mendapat kemenangan, suku Dayak justru berhasil membuat mereka kocar kacir.

Saat itu, tanpa memahami medan perang, Belanda menerobos masuk ke dalam hutan. Tetapi, bagi suku Dayak yang sejak kecil hidup diantara pepohonan tinggi, memahami betul medan pertarungan ini.

Baca Juga: Mengenal 11 Anak Presiden Soekarno, Ada yang Jadi Politikus, Ada Tak Terekspose ke Publik

Tidak hanya itu, mereka juga memiliki fisik terlatih layaknya seorang tentara.

Mereka terbiasa sejak kecil untuk menyesuaikan diri dengan alam sehingga kemampuan fisiknya juga ikut terasah.

Orang-orang Suku Dayak menjadi penghuni terlama di Borneo, Kalimantan.

Mereka sudah ada sejak pra-kolonialisme, munculnya kerajaan, masa kolonialisme Belanda, hingga di masa saat ini.

Seiring masuknya bangsa Melayu, Suku Dayak menolak menganut kepercayaan yang dipegang kerajaan dan kesultanan Melayu.

Baca Juga: Foto sebelum Hijrah Diumbar Lagi setelah Usulan Capres Mengaji, Kartika Putri : Saya Tidak Ikhlas, Tolong Hargai Proses Hijrah Saya

Keteguhan ini yang membuat mereka perlahan berpindah ke wilayah ketinggian.

Kemudian bangsa Melayu atau pihak kesultanan menyebut mereka Dayak. Nama itu berarti orang di atas.

Kolonial Belanda yang masuk belakangan menyebut mereka sebagai Dayak untuk mengidentifikasi mereka yang di pedalaman dianggap tidak beradab.

Orang Dayak percaya bahwa menjaga alam adalah menjaga kehidupan.

Baca Juga: Ketua DPRD Madina Akui Diperiksa Polda Sumut Terkait Dugaan Suap PPPK 2023, Dicecar 21 Pertanyaan

Dayak adalah sebutan dari penguasa untuk mengkategorikan mereka di pedalaman. Padahal, jumlah mereka sangatlah berbeda dan memiliki hukum adat yang berbeda-beda.

Tradisi Suku Dayak

Salah satu tradisi yang terkenal di Suku Dayak adalah memanjangkan kuping. Tradisi ini ada terutama di Kalimantan Timur dan dipercaya sebagai simbol kecantikan.

Mereka biasanya menggunakan logam sebagai pemberat di ujung telinga. Untuk perempuan hanya boleh panjang sebatas dada dan untuk laki-laki hanya boleh sebatas bahu.

Baca Juga: Woozi SEVENTEEN Tetapi Janji, Rilis Lagu Kesukaan Mendiang Moonbin di Hari Ultah Sahabatnya Itu

Seni lukis tubuh atau biasa dikenal sebagai sebutan tato juga merupakan kebiasaan orang Dayak.

Menurut mereka, tato adalah simbol kekuatan, serta perjalanan kehidupan dan spiritualitas.

Pewarnaan dan teknik pelukisan tato ini semuanya menggunakan bahan alami. Setiap goresan tato untuk laki-laki maupun perempuan memiliki makna tersendiri.

Misalnya, untuk laki-laki ada gambar bunga terong yang bermakna kedewasaan. Kemudian untuk perempuan misalnya tato Tedak Kassa di kaki atau tanganlah yang menggambarkan kedewasaan.

Salah satu kesenian berupa alat musik yang berkembang di suku ini adalah alat musik Sape.

Alat musik ini mengeluarkan bunyi sendu yang disertai suasana mistis dan gagah. Pewarnaan dan teknik pelukisan tato ini semuanya menggunakan bahan alami.***