POJOKSATU.id, JAGAT maya tengah dihebohkan dengan film animasi pendek berjudul “Ikan Mas Tur Dedari”, karya mahasiswa Sekolah Tinggi Multi Media ST-MMTC Yogyakarta, Aditistya atau yang akrab disapa Adhis.

Animasi ini viral di TikTok dan Instagram karena kualitas visualnya yang memukau dan detail mendalam.

Karya ini bukan sekadar tugas akhir, tetapi juga pembuktian bahwa talenta muda Indonesia mampu menghadirkan animasi dengan standar internasional.

Dengan ribuan frame yang digambar, dirender, dan disusun secara cermat, “Ikan Mas Tur Dedari” menampilkan cerita berakar pada budaya Bali yang dikemas dengan teknologi moderen.

Baca Juga: 7 Siswa SMAN 15 Tanjung Priok Keracunan MBG, Badan Gizi Nasional Telusuri Penyebab

Tantangan dan Perjalanan Produksi

Aditistya mengaku proses produksinya penuh perjuangan, mulai dari revisi berulang, trial and error, hingga begadang demi mengejar tenggat.

Namun, hasil kerja keras itu terbayar ketika warganet memberikan respons positif.

Banyak yang berharap film ini bisa diikutsertakan ke festival film internasional.

Bukti Kekuatan Kreativitas Anak Muda

Fenomena viralnya karya ini mengingatkan publik pada kesuksesan film animasi lokal sebelumnya, seperti “Rangda Awaken” dan “Neo Batavia”.

Baca Juga: Tips Memahami Kode Info GTK, Panduan Lengkap Guru Agar Data Valid dan Tunjangan Lancar

Bahkan CEO Lemon Sky, Ken Lai, pernah menyebut karya mahasiswa MMTC sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia.

Tak hanya itu, kesuksesan film animasi “Jumbo” dengan 10 juta penonton di bioskop juga memperkuat posisi animasi Indonesia di kancah global.

Data Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) mencatat, industri ini tumbuh 153 persen dalam satu dekade terakhir dengan potensi pendapatan Rp600–800 miliar.

Potensi dan Tantangan Industri Animasi Indonesia

Meski punya talenta kuat, industri animasi Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan:

-Minimnya dukungan infrastruktur studio moderen.

-Keterbatasan dana dan minimnya insentif pemerintah.

-Stigma animasi lokal hanya untuk anak-anak.

-Migrasi animator berbakat ke luar negeri demi karier lebih baik.

Baca Juga: Konsorsium Pembaruan Agraria Desak Pemerintah Tuntaskan 24 Masalah Struktural Agraria di Indonesia

Namun di sisi lain, tren global seperti AI, CGI, VR, hingga AR memberi peluang besar untuk mempercepat produksi dan meningkatkan kualitas.

Ditambah dukungan platform distribusi digital seperti Netflix, Disney+, dan GoPlay, animasi lokal bisa lebih mudah menjangkau pasar dunia.

Peran Pemerintah dan Pendidikan

Dukungan nyata dari pemerintah sangat dibutuhkan, baik melalui insentif, pendanaan, maupun integrasi program Making Indonesia 4.0 ke industri animasi.

Kampus seperti ST-MMTC Yogyakarta, AMIKOM, dan UNESA Magetan yang melahirkan banyak talenta harus terus diberi ruang berkembang.

Baca Juga: Agak Laen 2: Menyala Pantiku!” Siap Tayang, Ini Sinopsis, Pemain, dan Jadwalnya

Animasi “Ikan Mas Tur Dedari” dan “Jumbo” sudah berhasil menggeser pandangan publik bahwa animasi lokal bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga relevan untuk semua kalangan.

Ke depan, kampanye promosi agresif perlu dilakukan agar karya animasi Indonesia semakin dikenal luas, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.

Semoga informasi ini bermanfaat, ya.

Bantu tulis tanggapan di kolom komentar dan share info ini ya.

Demikianlah seputar kiprah film animasi “Ikan Mas Tur Dedari” yang diharapkan bisa sesukses "Jumbo". ***