POJOKSATU.id, FILM 'Pengepungan di Bukit Duri' menjadi salah satu karya Joko Anwar yang spesial. Bahkan, naskahnya saja dibuat jauh hari, tepatnya pada 2007 lalu.

Ya, terbilang cukup lama naskah yang ditulis Joko Anwar itu sebelum akhirnya dibuatkan film 'Pengepungan di Bukit Duri' Bahkan, karya ini akhirnya bekerja sama dengan rumah produksi luar negeri, MGM Studio.

Joko Anwar mengatakan sempat berpikir naskah itu tidak dibuatkan film, dengan harapan Indonesia bisa lebih baik, namun nyatanya tidak.

"Filmnya karena realistis bikin sesak nafas, buat skrip 2007. Jadi aku sama teman-temanku kayaknya kita engak usah bikin ya, dua tahun lagi Indonesia mungkin berubah. Ternyata setelah 17 tahun enggak berubah-ubah," ujarnya di sela-sela Study Tour film ini di Medan, Senin malam, 15 April 2025.

Baca Juga: Membawa Isu Penting, Joko Anwar Akui 'Pengepungan di Bukit Duri' Film Terspesial Sepanjang Karirnya sebagai Sutradara

Dan, berangkat dari keresahan yang sama tentang kondisi Indonesia yang menurutnya tak juga berubah, akhirnya film ini dibuat.

"Kami bikinlah dan aku ngajak pemain-pemain ini (Morgan Oey dkk) bukan hanya karena cerdas-cerdas tapi juga punya punya keresahan yang sama," sebutnya.

Meski ditulis sejak lama, dia meyakini masih relate dengan kondisi tanah air saat ini. Namun, sebagai orang film, tidak ada wewenang memberikan solusi atas apa yang jadi keresahan sebagai warga Indonesia.

"Kami kalau film maker, penulis, kalau kami memberikan solusi kurang ajarlah kami, bukan tempatnya. Kami sebagai pembuat film tugas kami supaya terbuka pikiran, berdiskusi," sebutnya.

Baca Juga: Rusunawa Disulap Jadi Gedung Sekolah Rakyat di Probolinggo Siapkan Generasi Emas Lewat Sekolah Rakyat

Berbagai persoalan tanah air yang diangkat di film 'Pengepungan di Bukit Duri' seperti kekerasan, intoleran bukanlah sepenuhnya salah warga.

"Yang salah sistem, yang membuat kita saling membenci. Masyarakat enggak salah, yang salah manajer yaitu pemerintah. Kita mengkritik sosial, kita menunjukkan fakta-fakta. Yang kita butuhkan teladan, siapa pemimpin kita?," sebutnya.

Dia menekankan film ini hanya bisa ditonton untuk usia 17 tahun ke atas, karena ada banyak adegan kekerasan, kata-kata kasar yang menggambarkan kondisi sebagian anak sekolah saat ini. Dimana, karakter dan etika jauh dari harapan.

Kerja sama dengan MGM Studio

Soal kerja sama dengan MGM Studio, Joko menjadikannya sebagai tantangan daripada beban. "Bagi kami tantangan, bisa enggak kami bikin film dengan Holllyowd berstandar tinggi," sebutnya.

Baca Juga: Dokter Kandungan Iril Syafril Sudah Punya Istri dan 2 Anak, Tak Bekerja Lagi di Klinik Karya Harsa

Sementara itu, Come and See Pictures adalah production house yang didirikan Joko Anwar dan Tia Hasibuan pada tahun 2020 yang berkomitmen untuk memproduksi film-film berkualitas dengan cara bercerita yang unik serta craftsmanship yang tinggi.

Film pertama yang mereka produksi adalah Pengabdi Setan 2: Communion untuk Rapi Films. Selain Siksa Kubur, Come and See Pictures juga telah merampungkan seriesoriginal Netflix berjudul Nightmares and Daydreams yang tayang tahun 2024 lalu. Dan, tahun 2025 ini “Pengepungan di Bukit Duri”. ***