POJOKSATU.id - Kisah pasangan Warsilah (39) dan Nuraeni (32) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang dikaruniai bayi kembar lima pada 7 Juli 2024, sempat viral di tengah masyarakat, terutama warganet.

Banyak yang membayangkan sulit dan repotnya mengurus dan membiayai lima bayi kembar tersebut.

Berbeda dari Warsilah dan Nuraeni, kondisi itu tidak dialami pasangan suami istri lainnya yang brada di tempat lain.

Kedua pasangan ini memang sama-sama dikaruniai momen langka dengan kelahiran bayi kembar lima. Bedanya, pasangan yang satu ini bahkan mendadak jadi miliarder.

Pasangan suami istri tersebut berada di Korea Selatan. Mereka adalah Kim Joon Yeong (31) dan Sagong Hye Ran, mendadak menjadi miliarder setelah kelahiran bayi kembar lima mereka pada 20 September 2024.

Baca Juga: Bikin Geger Karena Miliki Bayi Laki-laki, Ternyata Ini Sosok Ria Andrews Kekasih Stefan William

Keduanya menerima bantuan sebesar Rp2 miliar dari pemerintah Korea Selatan. Dukungan finansial yang diberikan tidak hanya berupa tunjangan sekali pakai, tetapi juga mencakup bantuan jangka panjang untuk perawatan dan pengasuhan anak-anak mereka.

Kim dan Sagong dikaruniai tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan melalui operasi caesar di Rumah Sakit St. Mary.

Kelima anak ini diberi panggilan sayang "PangPang Rangers," sebuah sebutan yang terinspirasi dari acara TV Power Rangers, mengingat jumlah mereka yang sama-sama lima orang.

Bahkan, Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol turut menyebut mereka sebagai Power Rangers, mengucapkan selamat kepada kedua orang tua dan staf rumah sakit.

Baca Juga: Kembar Beda Generasi, Pesona Komedian Komeng Saat Muda Disebut-sebut Mirip DPR Ian, Memangnya Seberapa Mirip?

Selain itu, mengirim hadiah berupa pakaian bayi dengan warna-warna cerah seperti merah, oranye, kuning, hijau, dan biru. Presiden Yoon juga memberikan rumput laut yang diyakini bisa mempercepat pemulihan pasca-persalinan.

Sebagai bagian dari perayaan kelahiran yang langka ini, pemerintah Korea Selatan memberikan voucher senilai 14 juta won (Rp160,5 juta) untuk perawatan anak, ditambah dengan 5 juta won (Rp57,3 juta) untuk biaya pengobatan serta bantuan pengasuhan.

Pemerintah Kota Dongducheon, tempat pasangan tersebut tinggal, juga berencana memberikan voucher senilai 15 juta won (Rp172 juta) untuk keluarga itu, yang dapat digunakan di toko-toko lokal.

Baca Juga: Pasangan Suami Istri Bobol Uang Bank Rp5,1 Miliar, Buat Kartu Kredit Pakai 41 KTP Palsu

Total bantuan yang diterima keluarga ini diperkirakan mencapai lebih dari 170 juta won (Rp1,9 miliar), dan bantuan tersebut akan terus diberikan selama tahun-tahun mendatang guna membesarkan anak-anak mereka.

Namun, situasi kontras dialami oleh pasangan Warsilah (39) dan Nuraeni (32) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang juga dikaruniai bayi kembar lima pada 7 Juli 2024.

Meski mendapatkan bantuan BPJS Kesehatan dan Pemkab Indramayu untuk biaya perawatan medis, pasangan ini harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari, seperti transportasi dan kebutuhan bayi.

Warsilah, seorang petani yang menyewa lahan sawah, juga membuka warung di rumahnya, tetapi penghasilan dari warung sering kali tidak menentu.

Meskipun demikian, Warsilah tetap bersyukur dengan segala bantuan yang datang dari tetangga dan pihak luar.

"Alhamdulillah ada saja yang berbaik hati menolong, seperti dari Polres kemarin kunjungan bawa sembako, bawa kebutuhan bayi," ujarnya.

Baca Juga: Mengerikan, Selebgram Cut Intan Nabila Alami KDRT, Unggah Detik-detik Sang Suami Melakukan Pemukulan di Samping Bayi Mereka

Pasangan ini bahkan mendapat bantuan sukarela dari tetangga yang rutin datang setiap hari untuk membantu merawat bayi-bayi mereka.

Namun, ketika malam tiba, Warsilah dan Nuraeni harus berjaga bergantian atau bahkan begadang sepanjang malam. "Kalau malam memang suka nangis, apalagi bayi ke-2, ke-3, dan ke-4. Kalau yang pertama dan terakhir anteng, tapi kalau lagi nangis, ya mau enggak mau berdua enggak tidur ngurus bayi," kata Warsilah.

Meskipun mengakui pengaturan keuangan menjadi tantangan besar, ia percaya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur.

"Rezeki sudah ada yang mengatur, kondisi ekonominya saat ini cukup," tambahnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa untuk sekali kontrol ke rumah sakit, mereka bisa menghabiskan sekitar Rp300-500 ribu. Meskipun mobil siaga desa tersedia tanpa biaya, Warsilah tetap harus menanggung biaya sopir dan bensin. ***


#Ikuti aplikasi berita [Pojok Satu] di Play Store dan App Store: [Android] dan [iOS] untuk mendapatkan informasi terbaru.