POJOKSATU.id - Persoalan sanitasi di kawasan transmigrasi Woslay, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, ternyata bukan hanya soal ada atau tidaknya fasilitas.
Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) Tim 18 menemukan persoalan yang lebih mendasar saat melakukan survei sanitasi dari rumah ke rumah di Woslay SP 1 dan SP 2.
Ketersediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan yang paling banyak disuarakan warga.
Dalam kunjungan tersebut, tim melihat masih ada sejumlah titik yang pasokan airnya terbatas dan belum terjamin sepanjang tahun.
Kondisi air yang digunakan warga juga secara visual tampak keruh.
Artinya, tantangan yang dihadapi masyarakat bukan sekadar memastikan jumlah air mencukupi.
Kualitas air untuk kebutuhan sehari-hari juga menjadi perhatian penting.
Martina, salah seorang warga Woslay, turut menceritakan kondisi tersebut.
Ia mengatakan air yang digunakan keluarganya sehari-hari kerap terlihat keruh.
“Saya berharap dapat mengakses pasokan air bersih yang jauh lebih layak dan mudah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkap Martina.
Penggunaan Jamban Sudah Menunjukkan Kemajuan
Di tengah persoalan air bersih, ada kabar positif dari sisi penggunaan jamban.
Tenaga kesehatan Puskesmas Senggi, Nurelyanti, menyampaikan bahwa kesadaran masyarakat dalam menggunakan jamban telah mengalami kemajuan.
Hasil survei TEP UNDIP Tim 18 mencatat 100 persen responden yang terdata telah menggunakan jamban leher angsa.
Capaian tersebut menjadi modal penting untuk membangun perilaku sanitasi rumah tangga yang lebih sehat.
Namun, keberadaan jamban saja belum cukup.
Fasilitas tersebut perlu didukung ketersediaan air yang memadai, septic tank yang aman dan sesuai standar, serta sistem pengelolaan air limbah yang tidak mencemari lingkungan.
Nah, persoalan berikutnya justru terlihat pada saluran pembuangan air limbah rumah tangga.
Saluran Air Limbah Masih Sederhana
Lamuji, warga Woslay, menjelaskan sebagian besar saluran air limbah di lingkungan tempat tinggalnya masih dibuat secara mandiri.
Saluran tersebut umumnya berupa galian tanah sederhana yang digunakan untuk mengalirkan air limbah dari rumah.
Cara ini menghadirkan sejumlah persoalan.
Saluran tanah lebih mudah mengalami pendangkalan, tertutup sedimen, ditumbuhi rumput liar, hingga tersumbat.
Ketika aliran tidak berjalan lancar, air limbah pun berpotensi menggenang di sekitar rumah warga.
“Warga disini sangat membutuhkan pembangunan saluran drainase yang lebih tertata agar air limbah dapat mengalir lancar dan kebersihan lingkungan rumah tetap bersih,” ungkap Lamuji.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa perbaikan sanitasi Woslay membutuhkan penanganan yang saling terhubung.
Air bersih perlu tersedia dalam jumlah dan kualitas yang memadai.
Penggunaan jamban sehat juga harus dibarengi septic tank yang aman serta sistem pembuangan air limbah dan drainase yang lebih baik.
Dengan pendekatan menyeluruh, perbaikan sanitasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas fisik.
Hal yang tak kalah penting adalah memastikan fasilitas tersebut benar-benar dapat digunakan dan mendukung kehidupan warga sehari-hari.
Kegiatan TEP UNDIP Tim 18 sekaligus menjadi bagian dari upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Fokus tersebut berkaitan dengan SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, SDG 6 mengenai air bersih dan sanitasi layak, serta SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan.***



