POJOKSATU.id - Berdirinya Universitas Hang Tuah (UHT) tidak bisa dilepaskan dari tekad keluarga besar TNI Angkatan Laut untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang ahli dan terampil di bidang kelautan.

Gagasan tersebut lahir dari dorongan cinta tanah air serta tanggung jawab terhadap kehidupan dan kelangsungan bangsa, terutama dalam mendukung pembangunan nasional melalui pendidikan tinggi yang memiliki wawasan kelautan.

Dari gagasan itulah kemudian lahir sebuah yayasan yang menjadi badan penyelenggara pendidikan tinggi dengan orientasi pada bidang kemaritiman.

Baca Juga: Film 'By Any Means' Pacu Adrenalin, Bercerita Tentang Agen FBI dan Pembunuh Bayaran Dipaksa Bersatu, Ungkap Kasus Mengerikan di Mississippi

Yayasan Nala Berdiri pada 4 Maret 1987

Langkah konkret dilakukan pada 4 Maret 1987. 

Pada tanggal tersebut dikukuhkan berdirinya Yayasan Nala melalui akta pendirian Nomor 5 di hadapan notaris R. Soedjono di Surabaya.

Yayasan Nala dibentuk sebagai bentuk peran serta TNI AL dalam pembangunan nasional, khususnya di bidang pendidikan tinggi.

Penyelenggaraan pendidikan tersebut diarahkan sesuai sistem pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Namun, ada kekhasan yang ingin dibangun. 

Baca Juga: Tak Perlu Digoreng, Churros Kentang Air Fryer Ini Renyah dan Bikin Nagih

Pendidikan tinggi yang dikembangkan Yayasan Nala memiliki wawasan kelautan sehingga dapat mendukung ketersediaan sumber daya manusia yang ahli dan terampil dalam dunia kemaritiman dalam jumlah yang memadai.

Nama Nala sendiri diambil dari tokoh sejarah Kerajaan Majapahit, yakni Laksamana Nala yang dikenal sebagai panglima Angkatan Laut Kerajaan Majapahit.

Panitia Pendirian UHT Dibentuk

Tidak lama setelah Yayasan Nala berdiri, pemimpin TNI AL membentuk panitia kerja persiapan pendirian Universitas Hang Tuah Surabaya.

Panitia tersebut dibentuk pada 14 Maret 1987 dan beranggotakan lima orang perwira TNI AL.

Baca Juga: UMKM Tetap Jadi Tulang Punggung BRI, Kredit Tembus Rp1.235 Triliun hingga Kuartal II 2026

Laksma TNI Anwar Afandi ditunjuk sebagai ketua, sedangkan Kol. Laut (KH) Drs. Soekimin Pranoto sebagai wakil ketua.

Posisi sekretaris dipegang Letkol. (P) Kamidjo. Sementara anggota panitia terdiri dari Kol Laut Budi Subagyo, Kol (Purn) Suradi, dan Letkol Laut (T) Sudarto, B.A.

Kerja keras panitia tersebut kemudian menghasilkan tonggak penting dalam sejarah UHT.

Universitas Hang Tuah Diresmikan pada 12 Mei 1987

Universitas Hang Tuah Surabaya secara resmi diresmikan pada 12 Mei 1987, bertepatan dengan Hari Pendidikan TNI AL.

Peresmian dilakukan oleh Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI R. Kasenda.

Baca Juga: Bupati Purwakarta Murka Dengar Ada SLHS Yang Dipalsukan,Minta Kadis DPMPTSP Buat LP ke Polres

Untuk pertama kalinya, posisi rektor dipercayakan kepada Laksma TNI Suyoso Sukarno, Ph.D yang saat itu menjabat Wagub AAL.

Pada masa awal, kegiatan perkuliahan UHT berlangsung di Kampus Teluk Bayur Nomor 6 Surabaya, yang merupakan bekas gedung Mess Kowal.

Enam fakultas dibuka pada periode awal tersebut, yakni Fakultas Teknologi Kelautan, Fakultas Teknik, Fakultas Perikanan, Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Administrasi, dan Fakultas Hukum.

Pada saat yang sama, Badan Hukum (BPH) Yayasan Nala yang berkedudukan di Surabaya juga berhasil membentuk Ketua Harian Yayasan Nala.

Jabatan tersebut dipercayakan kepada Mayor Jenderal TNI (Mar) Edi Hidrosin yang ketika itu merupakan Gubernur AAL.

Baca Juga: Tutorial Membuat LKPD di Canva AI Tanpa Prompt Panjang, Ini Langkahnya dari Awal sampai Selesai

Manajemen Yayasan Nala Kemudian Diperkuat

Dalam rangka membangun manajemen yang lebih terpadu, sejumlah keputusan penting mengenai pengangkatan jabatan dikeluarkan Kasal selaku Ketua Dewan Yayasan Nala pada 20 April 1987.

Perkembangan berikutnya terjadi karena padatnya tugas-tugas Kasal. 

Berdasarkan Surat Keputusan Nomor 1322, tanggung jawab Ketua Dewan Pengurus Yayasan Nala kemudian dialihkan dari Kasal kepada Deputi Kasal Bidang Operasi.

Pengalihan tersebut dituangkan berdasarkan akta Nomor 10 Notaris R. Soedjono di Surabaya pada 23 Mei 1988.

Baca Juga: Gus Lilur Soroti Muktamar ke 35 NU, Ada Panglima Tiba-tiba Umrah, Pasukan Kocar-kacir

UHT Membawa Pola Ilmiah Pokok Kelautan

Sejak awal, Universitas Hang Tuah dibangun dengan karakter yang kuat sebagai perguruan tinggi berwawasan kelautan.

Pola Ilmiah Pokok (PIP) UHT adalah ilmu dan teknologi kelautan. 

Konsep tersebut sejalan dengan aspirasi TNI AL dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Orientasi kelautan tersebut kemudian tercermin dalam berbagai program studi yang dikembangkan.

Fakultas Teknologi Kelautan memiliki program studi S-1 Oseanografi serta program Diploma III Nautika (MPB-III) dan Teknika (AMK-A).

Baca Juga: Jaga Saninten dari Ancaman Kepunahan, Pertamina Regional JBB Tanam 4.200 Pohon di Bandung Utara

Fakultas Teknik kemudian memiliki program studi S-1 Teknik Perkapalan, Teknik Sistem Perkapalan, dan Teknik Elektro pada tahun 1993.

Sementara Fakultas Perikanan mengembangkan S-1 Budidaya Perairan, Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan, serta Teknologi Hasil Perikanan.

Fakultas Kedokteran Umum memiliki muatan lokal kesehatan maritim.

Di bidang administrasi, terdapat Fakultas Ilmu Administrasi dengan program studi Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Administrasi Niaga.

Fakultas Hukum memiliki program studi Ilmu Hukum dengan penekanan pada hukum internasional.

Perkembangan bidang kesehatan kemudian bertambah dengan hadirnya Fakultas Kedokteran Gigi melalui program studi Ilmu Kedokteran Gigi.

Baca Juga: Baju Kena Oli Jangan Langsung Dikucek, Begini Cara Membersihkannya agar Kain Tetap Aman

Kampus Terpadu Dibangun di Sukolilo

Perkembangan UHT yang semakin cerah turut meningkatkan animo masyarakat untuk masuk ke universitas tersebut.

Kondisi itu kemudian mendorong Yayasan Nala untuk memperluas fasilitas kampus.

Kampus terpadu dibangun di kawasan Sukolilo dengan luas mencapai 50 hektare.

Lokasi tersebut dinilai ideal karena berada jauh dari kebisingan kota sekaligus dekat dengan pusat pendidikan lainnya.

Tahap pertama pembangunan kampus seluas 10 hektare diresmikan pada 9 April 1988 oleh Kasal Laksamana TNI R. Kasenda.

Baca Juga: Sejarah UKWMS, Berawal dari Gagasan Pendidikan Tinggi Katolik hingga Kini Punya Lima Kampus

Tidak lama kemudian, pada 4 Desember 1989, kampus baru tersebut diresmikan penggunaannya oleh Kasal Laksamana TNI M. Arifin.

Setelah itu, kegiatan akademik Universitas Hang Tuah dialihkan ke Jalan Arif Rahman Hakim 150 Surabaya.

Yayasan Nala juga membangun sejumlah fasilitas kampus Fakultas Kedokteran di kompleks Rumah Sakit TNI AL Dr. Ramelan Surabaya.

Fasilitas tersebut sekaligus berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan bagi Fakultas Kedokteran UHT.

Mendorong Masyarakat Kembali Melihat Potensi Maritim

Universitas Hang Tuah kemudian terus membawa gagasan pembangunan nasional yang menempatkan sektor kelautan sebagai bagian penting dari perekonomian.

Baca Juga: Investasi atau Trading, Mana yang Lebih Cocok untuk Kamu? Kenali Bedanya Sebelum Memilih

Paradigma yang diusung adalah “SEKTOR KELAUTAN SEBAGAI TIANG UTAMA PEMBANGUNAN EKONOMI NASIONAL”.

Sebagai perguruan tinggi swasta yang mempunyai Pola Ilmiah Pokok kelautan, UHT berupaya menyosialisasikan paradigma baru pembangunan kelautan kepada masyarakat secara terencana dan berkesinambungan.

Harapannya, dapat terbentuk tatanan masyarakat yang mampu membawa Indonesia kembali kepada kodratnya sebagai bangsa maritim.

Dalam selayang pandangnya, UHT menegaskan latar belakang pendiriannya melalui pernyataan: “Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan atas dorongan yang kuat dari rasa cinta tanah air serta tanggungjawab terhadap terjaminya perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa, maka keluarga besar TNI AL telah membulatkan tekad untuk mendirikan Perguruan Tinggi dengan Pola Ilmiah Pokok Kelautan”.

Perguruan tinggi tersebut diarahkan menjadi pusat penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan tinggi kebaharian.

Baca Juga: Ahli Uang

Tidak hanya pendidikan, UHT juga diarahkan untuk memelihara, membina, dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi guna mewujudkan masyarakat ilmiah yang berakar pada kebudayaan bangsa dan persatuan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta berwawasan Nusantara.

Membentuk Generasi Penerus yang Tangguh

Jati diri UHT juga berkaitan erat dengan gagasan pembentukan generasi penerus bangsa.

Dalam materi sejarahnya, UHT menekankan pentingnya generasi yang tangguh, tanggap, tanggon, dan trengginas untuk mengamalkan serta mengamankan kekayaan negara dan bangsa Indonesia yang berwawasan Nusantara dan berdasarkan Pancasila.

Generasi tersebut dipandang perlu dilahirkan dan dibina melalui pendidikan yang sesuai dengan jiwa, pandangan hidup, serta kepribadian bangsa Indonesia.

Baca Juga: September Anti-Burnout! Estimasi Biaya dan Trik Refreshing Singkat Tanpa Menguras Kantong

Atas dasar itu, TNI AL membulatkan tekad mendirikan perguruan tinggi swasta dengan badan penyelenggara berupa yayasan yang bergerak di bidang pendidikan tinggi dan bidang lain yang menunjang pendidikan.

Pendirian tersebut juga dipandang sebagai perwujudan darma bakti kepada bangsa.

Untuk menjalankan tekad tersebut, TNI AL berkehendak mengefektifkan potensi yang telah dimiliki, baik sumber daya manusia, sumber dana, materiil maupun spirituil.

Perjalanan UHT sejak 1987 akhirnya tidak hanya menjadi cerita tentang berdirinya sebuah universitas. 

Lebih dari itu, terdapat gagasan besar untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang memiliki kekhasan di bidang kelautan dan kemaritiman. ***